Menyampaikan Kabar Buruk

Asystole, no cardiac output

Hati siapa yang tidak sedih jika mendengar kabar buruk tentang kondisi kesehatan anggota keluarganya?

Beberapa hari belakangan, ketika saya jaga/dinas di IGD rumah sakit, beberapa kali datang pasien kritis dengan keadaan yang terus memburuk (deteriorasi), dengan didampingi keluarganya masing-masing. Pasien-pasien ini selalu dibawa ke ruang resusitasi dan diberikan Life Support untuk memperbaiki kondisi umum, khususnya fungsi kardiorespirasi dan otak. Namun kenyataannya tidak semuanya bisa terselamatkan. Ada juga beberapa yang harus pulang dengan kondisi (+).

Dalam bukunya yang berjudul “Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja”, Prof Daldiyono menulis bahwa selain bertugas dalam meningkatkan kualitas hidup pasien (promosi kesehatan), menyembuhkan penyakit (kuratif) dan rehabilitatif, dokter memiliki tugas terakhir dalam menatalaksana pasien yaitu: mempersiapkan pasien (dan keluarganya) menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Tugas ini merupakan bagian dari palliative care, yang diberikan bagi pasien dengan penyakit stadium lanjut atau yang tidak dapat ditangani lagi. Peran dokter adalah terutama dalam mengurangi rasa sakit (derita) yang dialami pasien dan keluarga, serta memberikan pendampingan psikososial dan bila perlu melibatkan aspek religius.

Seringkali baik dalam praktik sehari-hari maupun di ruang rawat emergensi, pasien datang dalam kondisi yang kritis. Kondisi kritis ini jika memungkinkan, harus dirujuk secepatnya ke bagian gawat darurat atau resusitasi di rumah sakit terdekat, untuk diberikan pertolongan pertama (Basic and Advanced Life Support).

Apakah semua pasien gawat berarti bisa sembuh dan pulih seperti sediakala? Belum tentu. Untuk kondisi-kondisi tertentu, dokter tidak dapat berbuat banyak serta harus mempertimbangkan risk-and-benefit baik bagi pasien maupun keluarga.

Suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal, mau tidak mau, pasien harus menghadap ke Tuhan Yang Maha Esa. Upaya terakhir barangkali monitoring keadaan (saturasi oksigen, tek.darah, nadi, napas, EKG) serta memanggil keluarga pasien untuk pendampingan.

Adalah sangat penting dalam memberitahu keluarga tentang kondisi pasien saat ini. Inilah yang disebut sebagai Breaking the Bad News atau Menyampaikan Kabar Buruk. Kabar ini cepat atau lambat harus diberitahukan. Ada beberapa point yang sebaiknya disampaikan:

Pertama: Kondisi pasien saat ini harus disampaikan dengan sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya, tanpa ada yang perlu disembunyikan apalagi dimanipulasi. Kedua, menyampaikan apa yang mungkin saja terjadi ke depannya, serta upaya yang telah (dan akan) dilakukan. Ketiga, menyerahkan keputusan kembali kepada keluarga, apa yang akan diperbuat selanjutnya. Keputusan ini dapat berupa mendampingi pasien di saat-saat yang berharga, penghentian terapi dan obat-obat yang bersifat kuratif dan invasif, atau permintaan pulang. Semuanya bergantung pada kebijakan keluarga. Dokter bertugas memfasilitasi pertemuan ini.

Dalam menyampaikan kabar buruk ini, dibutuhkan sikap Empati dari pihak dokter/pelayanan medis. Seburuk-buruknya suatu keadaan harus disampaikan sembari merasakan perasaan keluarga, layaknya bagaimana bila kita sendiri ada  di posisi mereka. Berbagai penolakan, kesedihan, atau amarah harus dapat dikenali dan diberikan waktu untuk menenangkan diri serta mengambil keputusan terbaik dari pihak keluarga.

Advertisement

5 thoughts on “Menyampaikan Kabar Buruk

  1. Ayo Bang! Saya dukung terus Abang sebagai dokter! :mrgreen:

    Setidaknya posting-an ini membuat saya berpikir, bahwa tak semua penyakit bisa disembuhkan oleh dokter. :|

    memang tidak semua penyakit bisa disembuhkan…. khusunya sakit kanker (kantong kering) dan sakit hati… he..he…

  2. Kabar buruk lebih sering terjadi saat bertugas di Unit Gawat Darurat.
    Kabar gembira lebih sering terjadi di Bagian Kebidanan.

    Jadi ada keseimbangan, ada yang meninggal dunia dan ada yang lahir ke dunia.

    Ada siang dan ada malam.
    Ada pria dan ada wanita.
    Ada senang dan ada sedih.

    Begitulah hidup.

    Tetap semangat. Tuhan memberkati nada.

    Salam.

    thanks doc!

  3. ooh aku pikir kalau aku menderita kanton kering bisa minta obatnya disini hihihi.
    aku pernah tuh mengalami deg-degan gitu waktu habis melahirkan pascal, karena babynya sesak jadilah dia masuk ruang perinatologi dan dipasangin bermacam-macamalat. suara itu yang buat trauma

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s