Dua Lebih Baik

Saya nggak tahu apakah semboyan “banyak anak banyak rejeki” masih ada yang menganut dan melakukannya. Andaikata pemikiran semacam ini tidak lagi dipertahankan, namun terkadang kita masih melihat ada saja pasangan yang memiliki anak yang relatip banyak.

.

Kemarin ketika sedang jaga/dinas malam di Instalasi Gawat Darurat (IGD), datang pasien seorang wanita dengan diantar suaminya dengan keluhan penurunan kesadaran. Menurut pengantar (suami), pasien tsb sudah dua hari terakhir keluar darah banyak dari “bawah” dan sesak napas hilang timbul satu minggu sebelumnya. Dari pengamatan sekilas wanita ini tampak sakit sedang dan sulit diajak berkomunikasi. Kemungkinan pasien ini mengalami shock hipovolemik (shock akibat kehilangan cairan dalam jumlah banyak). Tentu harus ditemukan sebab perdarahannya untuk diagnosis pasti.

Yang menarik, wanita ini sedang hamil anak kedelapannya. Usia kehamilannya jalan delapan minggu, sedang usianya sendiri tiga puluh dua tahun. Ketujuh anak lainnya: tertua usia lima belas dan terkecil usia tujuh bulan. Sempat ada kecurigaan perdarahan ini disebabkan oleh kehamilan ektopis (hamil di luar rahim), namun hasil USG menunjukkan janin berada dalam rongga rahim.

Sebagai tambahan, pada pasien ini juga teraba massa pada kelenjar susu sebelah kiri (curiga ada keganasan) dan efusi pleura (cairan dalam rongga pleura) yang sudah dikeluarkan melalui selang/punksi.

Saat dirawat di IGD, pasien tsb sempat hilang kesadaran, namun berkat peran sigap para staf IGD khususnya bagian anestesi maka pasien ini kembali sadar (composmentis) beberapa jam berikutnya dan selanjutnya dipindahkan ke ruang rawat.

.

Dari semua data-data pasien tersebut, fakta bahwa di usianya yang relatip muda namun jumlah anak yang banyak cukup menarik perhatian saya. Di mana tujuh anak lahir hidup dan satu lagi sedang dalam kandungan usia kehamilan dua bulan.

Tatkala pasien tersebut mengalami penurunan kesadaran, sempat terpikir oleh saya kalau-kalau pasien ini meninggal. Tentu saja ini prediksi yang ekstrim sekali karena dalam setting IGD dengan staf dan peralatan yang memadai semuanya harus bisa ditangani dengan sebaik-baiknya.

Namun demikian, andaikata pasien ini harus “lewat”, yang terbayang di benak saya: Bagaimana nasib ketujuh anaknya kelak? Apakah suaminya sanggup menjadi single parent untuk tujuh anak berusia tujuh bulan sampai lima belas tahun? Siapa yang akan mengasuh anak-anaknya tersebut? Apakah suaminya akan kawin lagi?

.

Bukan hal yang aneh jika saat ini masih dijumpai adanya pasangan yang memiliki banyak anak. Yang dimaksud banyak di sini berarti lebih dari dua, jika mengacu pada program KB milik pemerintah di mana dua anak cukup.

Tentu bukan tanpa pertimbangan jika setiap pasangan disarankan cukup dua anak. Dua anak saja berarti kesejahteraan, pendidikan, dan masa depan keluarga khususnya kedua anak akan lebih baik dibanding punya anak kesebelasan.

Lantas, kenapa masih ada pasangan berbanyak anak? Saya tidak tahu. Barangkali minimnya pengetahuan tentang baik-buruk punya banyak anak adalah salag satu sebabnya. Selain itu rendahnya kesadaran untuk ikut program KB dan usaha-usaha kontrasepsi lainnya. Jangan-jangan masih ada juga pemikiran “banyak anak banyaklah rejeki”.

Bila pemikiran tsb masih ada, saya malah melihat yang terjadi sebaliknya: “banyak anak banyaklah masalahmu”.

  1. Banyak anak berarti banyaklah beban yang harus ditanggung, seperti makan, pendidikan, kesejahteraan, kesehatan, dsb. Hati-hati, banyak orang yang tidak tahu jika pengabaian kebutuhan anak dapat melanggar hukum dengan ada sangsi (UU no. 23 tahun 2002 ttg anak). Khususnya bagi masyarakat menengah ke bawah, jumlah anak yang banyak sama dengan biaya hidup yang makin besar padahal pendapatan pas-pasan.
  2. Banyak anak berarti pembagian kasih sayang yang harus lebih banyak. Pada keluarga dengan banyak anak, setiap anak hanya akan menerima porsi kasih sayang yang lebih sedikit dibandingkan jika keluarga tsb hanya memiliki satu atau dua anak.
  3. Banyak anak berarti peningkatan risiko kehamilan dan kematian saat melahirkan pada ibu dan berbagai penyakit lain.
  4. Banyak anak berarti persaingan di masa depan yang harus lebih ketat. Akan berbeda situasinya jika pasangan dengan dua anak mempersiapkan masa depan anaknya, dibandingkan pasangan sembilan anak mempersiapkan masa depan anak mereka. Dengan semakin banyaknya jumlah pengangguran terdidik dan terlatih saat ini, orang harus memiliki nilai jual lebih agar mendapat tempat di dunia kerja. Anak banyak jika tidak dipersiapkan dengan baik, sama saja dengan menambah jumlah pengangguran dan efek ikutannya di masa yang akan datang.
  5. Lain-lain… (silakan isi sendiri).
Saya pernah melihat beberapa keluarga, yang datang dari kalangan marjinal namun jumlah anak banyak. Bayangkan situasi seperti ini: rumah sempit dari triplek, si ibu sedang memasak sambil menyusui anak terkecil, sedang anak-anak yang lain berlari-larian di gang, ada yang sedang rewel, ada yang ribut dengan saudara-saudaranya yang lain, anak yang tertua sedang membantu bapak cari duit, dsb. Sulit membayangkan bagaimana orang bisa bertahan di kondisi yang seperti itu.
Pada intinya ini bukan bermaksud melarang orang memiliki banyak anak. Namun pada keluarga dengan jumlah anak yang “cukup” satu atau dua saja,maka kehidupan dan kesejahteraan akan lebih baik dan terjamin dibanding dengan anak banyak.

3 thoughts on “Dua Lebih Baik

  1. Semboyan “banyak anak banyak rejeki” sudah tidak layak dianut lagi.

    Bila sudah mencapai batas maksimal, maka pembatasan kelahiran mesti diambil dengan tegas. Di RRC saat ini diberlakukan boleh punya anak hanya 1 orang anak saja.

    Emang kontras masalah ini.

    Ada keluarga yang mempunyai banyak anak ( 5-6 orang ), tetapi ada banyak pasangan suami-isteri yang sudah menikah bertahun-tahun masih belum mempunyai seorang anakpun.

    Mempunyai keturunan adalah suatu karunia dari Tuhan.

    Seharusnya kita dengan bijaksana merawat, membesarkan anak ( anak-anak ) kita dan menidiknya dengan baik, bukan malah membuanganya ke dalam tong sampah.

    Salam.

    setuju dok…kualitas dalam mendidik generasi muda, tentu lebih bermakna dibandingkan dengan kuantitas…
    salam

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s