Uang Pecahan Rp.100,-. Anda (Masih) Punya?

Iya, uang pecahan seratus perak. Mau logam atau kertas tak jadi soal, karena yang penting nilainya.

Secara nominal nilai uang Rp.100,- memang jauh di bawah Rp.10.000,- apalagi Rp.100.000,-. Tapi nilai psikologisnya lebih tinggi dibanding nominalnya, sejajar dengan keberadaannya yang semakin zonder di kantong ataupun dompet kita.

Kemarin saya berbelanja di sebuah market, dengan total harga belanjaan Rp. 35.835,-. (Nominal yang aneh, karena semua juga tahu uang pecahan lima rupiah sudah tidak beredar). Saya bayar dengan selembar lima puluh ribuan, berdasarkan perhitungan harusnya dikembalikan Rp. 14.165,- bukan? Tapi Mbak Kasir yang ramah memberikan Rp.14.000 dengan satu biji permen warna ungu. What the….? 

Permen itu saya tolak. Si Mbak Kasir lantas mencari uang seratusan dari rekan sekerja di sebelahnya, itupun setelah dia merelakan dulu  dirinya terpapar sindiran halus saya. Hipermarket semprul. Antrean di kasir tsb jadi sedikit macet, lantaran ybs harus menggeruduk laci teman sekerjanya guna mencari recehan buat kembalian.

Entah mengapa uang pecahan seratus semakin sulit ditemukan, dan -kalaupun ada- nilainya menjadi semakin tidak berharga. Salah satunya ya cerita kasir itu.

Saya ingat sewaktu SD sekeping logam Rp.100,- bisa ditukar dengan sebiji permen, yang sekarang harganya (paling murah) Rp.350,-.

Adapun para U-turn boyz, alias Pak Ogah Polisi Cepek yang menjaga pengkolan, seringkali menolak jika diberi Rp.100,- oleh pengendara yang lewat. Bagi mereka itu pelecehan terhadap profesi dan martabat. Cobalah memberi uang yang sama kepada pengamen di simpangan. Besar kemungkinan mereka akan berlalu sembari berserapah. Syukur kalau kendaraan Anda tidak dibaret dengan logam tsb.

Uang Rp.100,- semakin mahal secara psikologis. Seorang kawan yang studi di Fakultas Ekonomi jurusan Akuntansi, pernah menjabarkan teori mengapa Peruri menerbitkan uang pecahan Rp.200,- (dan Rp.2000,-) baru-baru ini. Dia bilang, inilah yang disebut sebagai Inflasi. Harga-harga akan naik seiring dengan pertambahan nilai barang yang beredar di dalam negeri. Uang-uang yang bernilai kecil akan hilang digantikan uang yang lebih besar nilainya. Seperti yang terjadi pada Rp.25,- dan Rp.50,- yang sudah almarhum di pasaran. Ujung-ujungnya bisa terjadi redenominasi atau pemotongan nilai rupiah. Semacam itulah, katanya.

Saya bisa mencerna ucapan kawan tsb. Dulu uang Rp.100,- masih bisa dipakai untuk membeli berbagai macam benda, tapi ia tak bisa dipakai untuk membeli apa-apa lagi di akhir dekade 2000 ini. Kabarnya, dengan diterbitkannya uang pecahan Rp.200,- maka uang pecahan Rp.100,- akan ditarik secara perlahan-lahan hingga menghilang dari peredaran. Hal yang sama juga akan menimpa uang pecahan Rp.1.000,- dengan diterbitkannya pecahan Rp.2.000,-

Kembali ke uang logaman seratus perak.

Keberadaan pecahan uang yang semakin sedikit ini berpotensi menyebabkan terjadinya praktik pemotongan uang kembalian secara sepihak. Ambil contoh ya kasus belanjaan dan kasir di atas. Karena sang juragan market sedang fakir uang logam seratusan, ia menukarnya dengan sebiji permen. Ada yang lebih pintar; uang yang nilainya di bawah seratus akan dipotong lalu dimasukkan jadi sumbangan. Misalkan kembalian Anda adalah Rp.15.150, maka yang Rp.150 terakhir akan ditawarkan untuk disumbangkan. Ke manakan ia disumbangkan, ini juga tak jelas. Tak jelas kepada siapa dan apakah akan sampai dengan selamat.

Maka, sekarang saya lebih banyak mencadangkan uang cepekan ini di kantong dan di dompet. Bukankah lebih baik membayar dgn uang pas ketimbang uang kembalian kita dikebiri.

Uang Pecahan Rp.100,-. Anda (Masih) Punya?

©Gambar diambil dari sini

15 thoughts on “Uang Pecahan Rp.100,-. Anda (Masih) Punya?

  1. NIlai uang Rp. 100,- sudah tidak ada artinya lagi. Banyak pengemis dan pengamen kalau diberi uang receh Rp. 500,- juga tidak mau. Sombongnya mereka, uang itu dikembaikan lagi kpd saya atau dilempar begitu saja.

    Mereka tidak mengerti kalau setiap orang memberi uang Rp. 500,- setiap hari, maka dalam sehari akan terkumpul uang yang cukup banyak. Tidak bekerja susah payah akan punya uang cukup banyak.

    Mereka inginnya dapat uang banyak dalam sekian detik tanpa susah ayah.
    Mana ada uang masuk ke kocek mereka secepat bilang “Sim salabim”.

    Kalau dihitung biaya pembuatan uang receh Rp. 100,- , Rp. 200,- atau Rp. 500,- oleh Peruri itu tidak sebanding dengan nilai nominalnya.

    Sering kali saya melihat lembaran uang Rp. 100.000,- dicoret-coret dengan ballpoint. Mereka tidak menghargai uang sendiri.

    Silahkan kalau berani mencoret-coret lembaran uang US dolar.
    Kalau berani maka akan menderita kerugian sebab nilai tukarnya akan menurun drastis yang ditentuan oleh pihak Money chainger.

    baik uang recehan maupun uang nominal besar sering menerima perlakuan yg salah… dicoret2, dilipat, dijegrek, kadang sobek… aduh…. :(
    #mikhael

  2. aku punya banyak sekali tuh, semuanya kembalian saat belanja

    ternyata masih ada toko yg mengembalikan recehan pada konsumennya…
    #mikhael

  3. Negara ini terlampau sombong dgn dirinya sendiri. Uang yg dikeluarkan pemerintahnya pun kurang dihargai banyak kalangan usahawan dan rakyatnya. Padahal di Malaysia, sekupang (1/10) dari Ringgit begitu sangat dihargai…

    sekecil apapun nilai uang, kalau ditabung dan dipelihara dengan baik, bisa jadi banyak dan digunakan dgn semestinya….
    #Mikhael

  4. Keluarga saya selalu ngumpulin receh, Bang. :D Terasa manfaatnya saat ini, Kalo mau ngasih polisi cepekan di jalan gampang banget. Mau bayar duit angkot, pake receh. Mau bayar parkir motor, pake receh. :mrgreen:

    Bang, bahkan kami masih punya duit pecahan 25 rupiah lho. :oops:


    boleh ditiru, nih… yang wang 25 rupiah itu saya udah ngga pernah lihat lagi lho… :D
    #mikhael

  5. nggak punya pecahan 100 rupiah

    kalau di sini satu cent pun pasti kasir punya kembaliannya, kalau dikasih permen spt di sana pasti dah dituntut tuh tokonya :) … lain ladang lain belalang ya ;)

    wah tertib yah…”di sini” itu maksudnya di mana? :lol:
    #mikhael

  6. susah nyarinya sekarang pecahan 100

    mau share video bayi yg senyumnya cute bgt. sapa tahu jadi terhibur ngelihatnya

  7. Punya ?
    Masih … saya masih punya …

    Digunakan ?
    mmm … jujur tidak … saya masukkan uang logam tersebut kedalam celengan (tabungan)
    Kalo udah banyak baru digunakan …

    Salam saya

    sama, saya juga Om.
    terimakasih sudah berkunjung
    #mikhael

  8. aku masih punya di rumah uang kembalian waktu belanja…nnti kalo belanja di supermarket aku pake biar kembaliannya bulet…misalnya belanja 40.150…aku hayar 50.150 jd kembaliannya 10ribu bulet……

    soale klo ngga gitu suka dibulatkan keatas sama kasirnya…..

    setuju, mbak. daripada kita rugi sekian rupiah mending selalu siapin duit kecil biar jumlahnya genap
    #mikhael

  9. Saya masih punya uang 100-an. Biasanya saya kumpulin sampai banyak, trus saya bawa2 buat bayar parkir dan ngasih ke pengamen atau pengemis, nominalnya kadang 500 kadang 10000. Zaman sekarang pengemis pun seolah nggak terima kalau cuma dikasih 100 doang. Mereka kira pelecehan. Padahal, mereka sendiri yg melecehkan diri sendiri dengan mengemis….

    Iya, sekarang banyak banget pusat perbelanjaan yg meremehkan uang 100, jadi uang kembalian yg jumlahnya segitu biasanya dituker permen. Kalau dipikir-pikir, sebenarnya curang juga, ya…

    Salam :-)


    kadang2 ada pengemis yang melempar duit kalau dikasih 100an. mereka mau minimal 1000-an. tidak tahu diri juga, mau ditolong apa tidak sih mereka. mending uangnnya dikumpulin sampai genap sekian ribu rupiah, bisa dipakai buat beli sesuatu
    terimakasih sudah berkunjung
    #mikhael

  10. Begitulah negeri yang kita cintai ini. Entah sejak kapan dan bagaimana asal muasal dan sebab musababnya, permen (yang biasanya juga kurang laku …) mendadak jadi alat tukar pengganti mata uang yang sah di republik ini. Aku biasanya langsung mengembalikan permen tersebut ke kasir (tanpa harus minta diganti …) karena selalunya permen yang dikasih adalah yang tidak enak … Lagipula, untuk apa pula kita menerima sesuatu yang tidak kita butuhkan? “Dipaksa” membeli pula lagi?

    sudah uang kembalian dipotong, malah dikasih permen, bikin sakit gigi aja…
    #mikhael

  11. Waktu saya kecil permen harganya masih 5 rupiah. Saat remaja, awal-awalnya mengenal rokok (sekarang sudah berhenti merokok) rorok Ji-sam-soe harganya 75 rupiah per batang or 750 rupiah per bungkus, sekarang 11 ribu perbungkus.

    Untuk beli satu bungkus jisamsoe dengan harga 11 ribu perbungkusnya, dulu bisa dapat 14 bungkus. Atau jika rata-rata merokok satu bungkus rokok per hari, dengan membeli rokok untuk dua hari saat ini, sama dengan membeli rokok untuk satu bulan saat ketika saya masih remaja. Wah lumayan, kepala nggak pusing karena tidak merokok dan mikirin uang rokok.

    Ketika pertama kali bekerja (gaji masih kecil), harga rokok jisamsoe sudah meningkat lima kali lipat, terasa sekali pengeluaran untuk membeli rokok per bulannya. Antisipasi saat itu adalah mengurangi membeli rokok dari kantong sendiri, lebih intens nebeng rokok temen yang gajinya lebih besar atau ortunya rada tajir. Lama-lama terasa juga ga enaknya, untuk satu batang rokok harus rela mengorbankan harga diri, harus umbar basa-basi, yang terkadang harus dengan rela hati dan senyum terpaksa menerima sindiran yang memang tidak menyakitkan hati. Kasian deh.

    Jatuh sakit (radang tenggorokan) karena kebanyakan merokok dari berbagai merek, dan depresi karena harus ‘ngemis’ rokok dari orang lain, akhirnya secara berkala dapat berhenti merokok. Merdeka!

    Btw, untuk para pengemis yang menolak diberi 100 rupiah saat ini, apakah tenggorokan mereka terbuat dari paralon (kapiler pvc), sehingga tenggorokan tidak pernah meradang karena depresi dan merokok (bagi pengemis yang merokok), atau karena memang tidak punya harga diri sehingga merasa memiliki hak untuk tidak diberi 100 rupiah sekali meminta (mengemis)?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s