
Mendekatkan yang jauh, namun menjauhkan yang dekat.
Tampaknya slogan tsb pas untuk menggambarkan interaksi interpersonal yang kini disusupi oleh kehadiran gadget canggih di tengah-tengahnya.
Seperti yang kita ketahui bersama, di jaman serba internet bin digital ini peranti keras untuk berkomunikasi semakin banyak jumlahnya dan juga semakin terjangkau. Sebut saja laptop yang kian canggih , sabak digital (iPad dan sebangsanya) hingga ponsel pintar (smartphone) yang melayani segala kebutuhan.
Hampir semua orang punya barang tsb, minimal salah satunya, misalkan laptop atau ponsel pintar. Kehadiran benda-benda yang mudah dioperasikan ini semakin memperlancar pekerjaan sehari-hari. serta memudahkan komunikasi jarak jauh dengan biaya minimal.
Namun, menjamurnya gadget elektronik ini membuat banyaknya para ‘pecandu’ bermunculan. Yang saya maksudkan adalah pecandu internet dan gadget. Sebagian besar waktunya dihabiskan untuk menatap layar seraya menanti balasan pesan yang dikirim barusan. Atau untuk main games, menonton streaming, chatting, dsb.
Efek katastrofik dari sindrom kecanduan gadget ini, adalah matinya interaksi sosial di alam darat. Seringkali kita berkumpul dengan teman-teman atau handai taulan, namun beberapa di antaranya sibuk sendiri memainkan gadget/smartphone di tangannya tanpa menghiraukan perbincangan yang sedang terjadi. Rupanya ybs sedang asyik membalas message dan chatting dengan temannya yang jauh di sana, sementara teman yang dekat (secara jasmani) malah dicuekin. Bukan sekali dua kali pembicaraan tidak bersambut sebagaimana yang diharapkan.
Interaksi sosial dan interpersonal menjadi dingin. Orang lebih suka berlama-lama menatap layar alih-alih menatap lawan bicara sembari mendiskusikan sepatah-duapatah kata. Inilah yang disebut dengan perkataan: sunyi di keramaian. Ramai secara jasmani, namun sunyi secara interaksi.
Benar saat ini banyak orag yang lbih suka mengakses Internet untuk segala macam keperluan. Akibatnya mereka jarang berkomunikasi verbal dengan orang-orang disekitarnya.
Ramai disekitarnya, tetapi sunyi berkomuikasi seara verbal dengan oranmg-orang dsekitarnya.
Apakah ini tanda akhir jaman? Saya tidak tau persis.
Salam.
Itu foto Bung Karno dkk ada yang lain lho. Judulnya “Nge-jam dulu sebelum proklamasi”.
itulah kenapa kehidupan di dunia nyata dan dunia maya harus seimbang.. tapi kalo disuruh milih antara nyata atau maya, saya lebih memilih yang nyata bang.. hahaha #yaiyalah
Setuju sama atas saya, kalo gak seimbang bisa mempengaruhi psikologis seseorang.
dia bakalan gak bisa bersosialisi & bermasyarakat.