
Bukan Acara Masak Memasak
Konon dalam diri manusia emosi yang paling primitif adalah rasa Takut. Takut akan banyak hal: kehilangan, kesedihan, ditinggalkan orang lain, dsb. Ada juga jenis takut thd sesuatu yg semestinya tidak perlu ditakuti. Takut patologis ini dikenal sebagai Fobia.
Fakta menarik adalah bahwa emosi Takut bisa dimodifikasi/diredam/dialihkan dgn cara tertentu. Efek meredam rasa Takut tsb bisa menaikkan performa orang ybs. Misalkan ada seorang anak kecil sanggup melompati tembok setinggi dua meter akibat Takut dikejar anjing. Atau orang yg badannya kurus bisa meng-K.O lawannya yang berbadan besar, tanpa memberi ruang untuk melawan akibat takut dipukul duluan.
Contoh Takut lain yang juga ‘positif’ adalah ketakutan seorang pelajar terhadap hari ujian, sehingga memaksa dia untuk belajar dan menyerap ilmu lebih cepat H-1 ujian. Ini namanya kepepet.
…
Ketika masuk di sekolah medik, salah satu ketakutan saya di awal perkuliahan adalah bersinggungan dengan tubuh orang mati atau mayat/jenazah/kadaver. Jangankan bersentuhan, melihat saja sudah takut, dan cenderung tidak suka. Sewaktu ospek kami pernah dibawa masuk ke Museum Anatomi, yang isinya toples kaca berisi uraian jasad. Malam itu saya nggak bisa tidur.
Kenyataannya, secara perlahan rasa takut saya terhadap kadaver ditumpas oleh rasa takut lain yang lebih besar: Takut nggak lulus ujian Anatomi.
Ceritanya setiap mahasiswa pre-klinik harus melewati kelas praktikum Anatomi sesuai dengan mata kuliah/modul yang diajarkan. Pada modul Neuroscience, maka anatomi kepala, otak hingga Medula spinalis dan saraf tepi akan dieksplorasi di Lab (istilah yg lazim untuk Bangsal Potong). Atau misalkan pada mata kuliah Gastointestinal, mhs akan mengeksplorasi dan mengidentifikasi setiap organ dalam (jeroan) perut manusia.
Pada awalnya saya hanya berani masuk ke Lab kalau lagi ramai-ramai saja. Begitu juga saat teman-teman yang lain menyentuh sediaan/kadaver, saya beraninya hanya melihat dari jauh. Bau formalinnya juga nggak enak di hidung dan di mata.
Tapi fakta berkata lain. Konon ujian anatomi itu sulit. Dengar-dengar banyak yang nggak lulus pada modul tertentu. Apalagi bobot ujiannya terbilang tinggi, sehingga kalau tidak lulus harus mengulang dan nilai jatuh.
Tidak mungkin rasanya lari dari Kenyataan. Akhirnya dari yang tadinya cuma berani memandang dari jauh, pelan-pelan berubah, menjadi: Kerja mandiri, ambil sarung tangan dan pinset sendiri, pergi ke pojok sambil membawa atlas anatomi, lalu belajar mandiri dengan ditemani Mr. Corpse. Hal yang sama terus dilakukan sampai saya lulus semua mata kuliah yang berhubungan dengan lab horor itu.
…
Pada akhirnya saya faham bahwa rasa takut dalam diri kita bisa dikalahkan, atau dibelokkan menjadi sesuatu yang positif.
Terkadang saat ini pun saya masih takut thd jenazah, misalnya saat menghadiri acara kedukaan di mana ada jenazah disemayamkan. Mendingan saya keluar ruangan cari angin atau ngobrol-ngobrol dgn orang hidup beneran
. Lain halnya dengan di Anatomi, di mana ketakutan saya kalau ‘tidak lulus ujian’ mengalahkan ketakutan terhadap sediaan uraian tubuh.
Masih banyak lagi contoh Takut yang positif yang lain di kehidupan sehari-hari. Misalkan pada orangtua, barangkali ada ketakutan saat meninggalkan anaknya sendiri/berpisah di sekolah. Tapi jika hal tsb tidak diatasi, bagaimana anaknya bisa tumbuh mandiri dan berkembang?
Atau, kita takut terkena kecelakaan di jalan raya. Namun kalau tidak melintasi jalan raya, bagaimana caranya bisa sampai di tempat kerja, sekolah, rumah, dsb?
Semuanya tergantung pada bagaimana kita mengendalikannya, apakah harus menghadapinya dgn berani, atau sebaliknya, malah lari dari kenyataan.
beda org beda rasa takutnya ya, yg enak emang takut yg positif itu. kalo sama jenazah aku juga takut, ato sama korban kecelakaan dsb, biasanya aku nolak utk ngeliat soalnya ntar kepikiran terus menerus, tapi bagaimana dgn org yg disebut penakut ? apa2 selalu takut, kalo ini apa ndak bawaan sejak kecil ato krn terpengaruh lingkungannya ?
kalau mengenai yg itu saya kurang tahu ya, tapi barangkali… org tsb sejak kecil hidup di lingkungan yang serba “dilarang” atau “tidak boleh begini, begitu” akhirnya dia jadi penakut karena dikondisikan dalam lingkungan yang seolah2 “menakutkan”… tapi ini analisa saya lhoo… saya bukan psikolog
#mikhael
Ini dia nih, takut positif ini saya pernah denger juga.
biasanya nih mahasiswa sering menghadapi takut yg positif… besok ujian malam ini SKS… atau… karena takut dikejar dosen pembimbing, TA nya dikebut habis-habisan…
#mikhael
Rasa Takut merupakan reaksi yang manusiawi juga ya.
Rasa takut akan meningkatkan produksi hormon Adrenalin dalam tubuh kita.
Adrenalin digunakan untuk 2 hal, yaitu: lari atau berkelahi.
Lari adalah reaksi yang Negatip
Berkelahi adalah reaksi yang Positip.
Reaksi Negatip atau Positip tergantung dari apa yang dihadapinya.
Kalau ada Pria yang takut sama Isteri, itu Negatip atau Positip?
Salam