Melayani di Batas Negeri

(Gambar Ilustrasi)

Jam menunjukkan selewat pukul sebelas malam. Di luar angin bertiup kencang seakan hendak menerbangkan seng penutup gubug. Boleh jadi sebentar lagi turun hujan deras.

Ini adalah bulan kesebelas aku berada di pulau ini. Suatu pulau yang terletak di daerah terluar Indonesia. Beberapa jam berlayar dari sini sudah memasuki wilayah jiran.

Keberadaanku di sini bukan karena keinginan, melainkan karena panggilan negara. Setiap dokter muda diwajibkan mengabdi selama dua tahun di seluruh Indonesia. Kebetulan aku kebagian wilayah perbatasan.

Aku bersiap untuk tidur, karena besok harus bangun pagi sekali untuk mengejar kapal boat yang hanya singgah di pulau ini seminggu sekali. Aku berencana akan ke kabupaten untuk mengurus surat tugas sekaligus menghubungi sanak saudara di kampung halaman. Daerah ini memang tidak terjangkau oleh sinyal hp.

Lampu gas kubiarkan menyala sebagai peneman tidur. Malam ini akan semakin mencekam jika ia padam.

Sayup-sayup kudengar suara di luar.

Tok…tok…tok… Ada yang menggedor pintu rumahku. Siapakah gerangan malam-malam begini?

”Pak… pak dokter… tolong bantu kami, ada warga yang kecelakaan pak…!”

Wah, malam-malam begini kenapa masih ada yang datang. Pintu kubuka dan kudapati dua orang bapak. Mereka tampak basah kuyub kehujanan.

“Pak, tolong ke tempat kami sekarang. Saudara kami ada yang kecelakaan, tangannya hampir putus..! Alamak, pikirku. “Sekarang dia ada di tempat kami, tolonglah pak, kami takut melihatnya..!”, katanya lagi.

“Baiklah. Tolong antar saya ke sana sekarang ya”. Tanpa pikir panjang lagi segera kukemasi barangku. Ada stetoskop, satu set bedah minor, spuit injeksi, beberapa obat yg terdiri dari painkiller, antibiotik, dsb. Ini semua perlengkapan puskesmas tempatku bekerja sehari-hari.

Di daerah terpencil seperti ini keberadaan dokter memang sangat sulit. Di puskesmas tempatku mengabdi, hanya ada satu bidan merangkap mantri yang merupakan warga setempat. Sedangkan yang namanya penyakit, kelahiran, dan kematian datangnya tidak mengenal waktu, maka tenaga kesehatan yang ada harus selalu siap.

Setelah mengemasi barang, kami berangkat. Dengan bertudungkan mantel hujan, aku membonceng motor yang dibawa oleh bapak tsb. Deru mesin motor Binter Tujuhpuluh-an ini serasa bersahut-sahutan dengan desau angin ditimpali hujan deras.

Dalam lima belas menit perjalanan, kami sampai di tempat yang dituju. Pada sebuah gubug dengan berpenerangan seadanya, ada pintu terbuka dan beberapa orang berkumpul.

Aku segera masuk dan mendapati pasien ybs. Tangan kirinya bercucuran darah.

“Satu jam yang lalu dia memperbaiki mesin perahu klotok, tapi tangannya terkena kipas mesin sehingga terpotong seperti ini”, kata salah seorang yang mendampingi pasien.

Lantas aku memeriksa keadaan umum pasien. Tampak sakit sedang dan kesadarannya menurun. Bisa jadi dia mengalami shock hipovolemik. Aku mengamati telapak tangannya tsb, ada luka memanjang kira-kira sepuluh centi, dalamnya satu setengah centi. Tampak daerah thenar (jempol) terpisah sebagian dengan daerah palmar (telapak) yang lainnya. Aku dapat melihat ototnya terbuka dengan darah yang membasahinya.

“Sudah diapakan pasien ini, pak?”, tanyaku. “Tidak diapa-apakan dok, cuma tadi disiram air dan dibungkus kain,” jawab mereka.

Baiklah. “Pak, saya akan menjahit tangan bapak ini. Tolong dua orang jadi asisten saya,” pintaku.

Kugelar peralatan bedah yang kubawa. Aku akan menjahit luka di tangan pasien ini dan menghentikan perdarahannya, sambil memantau tanda vital, asupan cairan dan mencegah adanya infeksi akibat luka terbuka di tangannya. Besok dia harus segera dibawa ke puskesmas/rumah sakit kabupaten.

Spuit injeksi kuisi dengan anestesi lokal lalu disuntikkan beberapa kali untuk membuat tangan pasien kebas, sehingga tidak terasa sakit saat ditembus jarum jahit. Aku juga meminta kepada keluarga untuk memberikan pasien minum secara berkala, mengingat dia bisa shock karena kehilangan cairan.

Maka di tengah malam buta seperti itu, di daerah terpencil perbatasan negeri, aku melakukan penjahitan dengan didampingi keluarga pasien. Berkali-kali aku meminta mereka menyediakan air panas, untuk mensterilkan alat bedah yang kubawa.

Aku teringat dulu ketika masih duduk di bangku perkuliahan, juga pernah melakukan tindakan bedah tengah malam seperti ini. Ketika sedang jaga di RS, datang pasien akibat kecelakaan lalu lintas. Saat itu kami (koass jaga) ada berdua didampingi seorang dokter residen. Tengah malam kami bahu membahu membersihkan luka dan melakukan penjahitan bedah. Kala itu aku hanya menjadi asisten, sedangkan yang memainkan instrumen bedah adalah dokter residen tsb.

“Sakit nggak pak..?”, tanyaku sambil mencubit tangan pasien dgn klem bedah. Pasien menggeleng, tandanya cairan anestesi lokal yang disuntikkan tadi masih bekerja. “Tolong mas pegang di sini, jepit, tahan, biar darahnya tidak mengalir keluar”, aku menginstruksikan kepada salah seorang keluarga pasien yang menjadi asisten bedah dadakan.

Penjahitan itu memakan waktu kurang lebih satu setengah jam. Pukul setengah tiga pagi pekerjaanku beres, pasien tampak tenang. Denyut nadi dan napasnya sedikit melemah tapi masih dalam batas normal. Darah sudah tidak mengalir lagi dan luka terbuka tadi sudah ditutup.

“Pak, besok pasien ini tolong segera dibawa ke puskesmas/RS secepatnya ya. Penjahitan ini hanya untuk sementara saja. Pasien ini sebaiknya dirawat inap”, kataku. Keluarga mengangguk. “Besok akan kami bawa, dok”, kata mereka.

“Saya antar pulang ya pak”, tawar laki-laki yang tadi menjemputku. Setelah membersihkan peralatan bedah dan mengemasi perlengkapan, aku bersiap pulang. Keluarga mengucapkan terimakasih sebesar-besarnya.

Hujan sudah reda. Ini sudah pukul tiga lima belas subuh. Adapun kapal boat ke kabupaten biasanya datang pukul tujuh pagi.

Mengabdi di daerah terpencil seperti ini memang ada banyak suka duka. Sukanya adalah ketika kita bisa menolong orang yang membutuhkan, terutama karena mereka kesulitan akses layanan kesehatan yang memadai. Dukanya adalah letak daerah yang terpencil dan peralatan seadanya membuat kita harus berpikir kreatif untuk menjalankan tugas sekaligus bertahan hidup.

Namun demikian bagiku ini suatu panggilan tugas oleh negara. Sebagai putera terbaik bangsa kita harus siap bertugas kemanapun ditempatkan. Setiap orang berhak atas pelayanan kesehatan yang memadai dan terjangkau. Apalagi  di daerah terpencil seperti ini, jangan sampai mereka merasa dianaktirikan karena sulitnya mendapat layanan kesehatan.

Menurutku justru di daerah perbatasan seperti inilah, layanan kesehatan dll harus sangat baik. Mengingat daerah ini adalah daerah parameter kedaulatan negara kita. Jika ada musuh yang mencoba merebut kedaulatan, mereka-mereka inilah yang pertama kali akan berhadapan dan diserang. Oleh karena itu mereka harus selalu sehat dan sejahtera guna menjaga kedaulatan negeri kita.

Sekarang ini sudah pukul enam pagi. Mataku terasa berat walau sudah diganjal segelas kopi tubruk. Tapi bagaimanapun juga aku harus berangkat ke pelabuhan sekarang, atau ketinggalan perahu boat yang akan menjemput.

©Gambar diperoleh dari sini

Artikel ini diikutsertakan pada Kontes Unggulan Cermin Blogger Bakti Pertiwi yang diselenggarakan oleh Trio Nia, Lidya, dan Abdul Cholik.

Sponsored By :



14 thoughts on “Melayani di Batas Negeri

  1. Tolong tanya apakah ini kisah nyata? Kapan itu terjadi.
    Kisah anda sugguh menyentuh hati. Begitulah kalau bertugas di tempat yang jauh dari sarana pelayanan kesehatan yang memadai, kita harus dapat melakukan pekerjaan yang bukan kewenangan kita tetapi harus dilakukan utk menolong pasien. Mestinya petanga kesehatan dan tenaga pendidik ( guru ) yang bertugas jauh dipadalaman mendapat kan sarana dan perhatian Pemeritah yang memadai.

    Salam.

  2. @ Dr. Basuki Pramana

    kisah ini merupakan cerita pendek buatan saya. sumber inspirasinya adl pengalaman dan share dari dokter-dokter senior yg pernah bertugas di perifer indonesia.
    mendengar cerita mereka yg melayani sbg dokter di pinggiran penuh dgn romantika. harus berjuang tidak hanya utk bertahan hidup tapi juga optimal melayani. kadang harus bertentangan antara idealisme dan realita. misalnya ketika kekurangan alat, maka harus bisa dengan yang seadanya. tidak ada duk steril, kertas pembungkus handschoen pun jadi. bahkan handschoennya dicuci berkali2. ada juga dokter yg harus menyelamatkan diri, krn hampir dicelakai oleh paraji/dukun setempat. mendengar cerita mereka rasanya miris juga.
    perhatian pemerintah adl sangat diperlukan. biar semakin banyak dokter dan tenaga kesehatan lainnya yg betah ditempatkan di perifer Indonesia tercinta. he ..he..
    salam

  3. Terimakasih atas partisipasi sahabat dalam kontes CBBP
    Artikelnya sudah lengkap……
    Siap untuk dinilai oleh tim juri…..
    Salam hangat dari Jakarta……

  4. Kisahnya menyentuh ampe merinding. Tp saat ini tak sedikit oknum dokter yg terpaksa lupa akan tugasnya karna adanya aturan. Contoh: tak bs menolong pasien karna uang muka masuk rmh skt kurang. Dan membiarkan pasien kesakitan berjuang melawan sakitnya. Smoga tak ada lg dokter yg seperti itu :)

  5. @entik-ibunaikhsan

    terimakasih dan salam kenal kembali dari Jakarta

    @Tarry KittyHolic
    dalam menolong pasien, seorg dokter selalu mengupayakan yg terbaik. jika ada kendala selalu dicarikan jalan keluarnya, bahkan menggandeng pihak ketiga. apapun yg penting pasien selamat.
    terimakasih sudah berkunjung.

  6. datang berkunjung, terima kasih atas partisipasinya. Tunggu pengumumannya ya :)

    sama-sama dan terimakasih sudah berkunjung :D
    #mikhael

  7. Datang berkunjung, terima kasih atas partisipasinya, silahkan menunggu pengumumannya

    sama-sama dan terimakasih sudah berkunjung :D
    #mikhael

  8. inspiring banget sob..
    ketika niat ikhlas, balasannya pun sungguh luar biasa indah nantinya..

    salam hangat dr makassar

    salam kembali, terimakasih sudah berkunjung
    #mikhael

  9. Pingback: Hadiah dari Kontes CBBP « rod-tobing weblog™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s