OSCE (Objective Structured Clinical Examination) adalah salah satu bentuk ujian praktik yang dilaksanakan di sekolah kedokteran. Setelah mengikuti perkuliahan selama waktu tertentu, mhs lalu diuji dengan cara diberi kasus acak dan diminta untuk memperagakan bagaimana cara menghadapinya. Ujian ini bisa menggunakan pasien asli, pasien bohongan, atau phantom.
…
Hari ini saya dan rekan-rekan baru mengikuti ujian OSCE yang dilaksanakan setelah mengikuti pelatihan keterampilan klinik dasar selama 2 tahun. Ujian ini juga salah satu syarat mengikuti praktek klinik. Jika lulus boleh melanjut ke tingkat berikutnya.
Ada banyak materi yang akan diujikan, mulai dari: Ilmu Kesehatan Anak, Ilmu Penyakit Dalam, Kardiovaskular, THT, Mata, hingga Psikiatri dan Public Health dsb. Namun tidak semuaya akan diujikan sekaligus kepada satu mhs, melainkan dipilihkan secara acak.
Begitu juga dengan kami. Beberapa bulan sebelum OSCE digelar, saya mempersiapkan diri dengan mengulangi materi terutama berkaitan tindakan-tindakan medis, dan membaca buku-buku rujukan. Tujuannya selain supaya bisa memeragakan dengan baik, juga bisa menjawab pertanyaan penguji dengan lancar.
Dan pada hari-H ujian, melalui pengundian saya mendapat empat stase (materi) yang diujikan:
1) Ilmu Penyakit Dalam, subbagian Metabolik Endokrin. Di sini diminta untuk melakukan anamnesis (wawancara), pemeriksaan jasmani Endokrin (kelenjar gondok) dan melakukan penyuntikan Insulin subkutan.
2) Kardiologi (jantung). Di sini lagi-lagi diminta untuk anamnesis, pemeriksaan jasmani jantung (prekordial) , lalu…. membaca EKG.
3) Oftalmologi (mata). Selain melakukan anamnesis, juga diminta untuk memeriksa visus (tajam penglihatan) dan funduskopi
4) THT. Lagi-lagi anamnesis, dilanjutkan pemeriksaan jasmani Hidung dan Tenggorokan.
Dari keempat stase tersebut, rata-rata bisa dilalui dengan lancar. Walau ada juga beberapa kesalahan yg terjadi, seperti: Kurang menggali riwayat pasien dgn mendalam, Lalai dalam mengecek konsentrasi insulin dan mencocokkan dgn Spuit Injeksi, Lalai mengikuti beberapa prinsip “Lege Artis”.
Lho, banyak banget ya kelirunya? he.. he… Dokter penguji berkata bahwa seringkali hal-hal kecil dan terlihat sepele itu terlupakan, padahal nilainya sangat penting dalam memeriksa dan menangani pasien. Apalagi dalam Ilmu Kedokteran dikenal prinsip “Lege Artis” , yang artinya bekerja harus kompeten sekaligus beretika dan berseni. Salah posisi duduk pun bisa membuat pasien tidak nyaman.
Dari keempat stase yang saya dapat, yang cukup saya senangi adalah Kardiologi ,yaitu pada pembacaan EKG. Jauh-jauh hari saya mempersiapkan diri untuk membaca EKG, mengingat materi ini cukup sulit (sepintas bentuknya seperti rumput jarum). Padahal pemeriksaan EKG memegang peranan penting dalam diagnosis penyakit jantung, selain dari metode anamnesis dan pemeriksaan jasmani.
Pada soal EKG saya diminta mengidentifikasi beberapa “kelainan”, yaitu: Left Axis Deviation (QRS complex lead II dan aVF negatip, lead I dan aVL positip), Iskemia Akut (ST depresi segmen pada sadapan prekordial), dan Hipertrofi Ventrikel Kiri (Indeks Sokolov-Lyon > 3,5 mV).
…
Dari ujian tsb secara umum saya menyimpulkan bahwa masih banyak yang harus saya pelajari, dan diperdalam lagi. Terutama mengenai materi-materi yang ‘luput’ diujikan. Menurut dosen-dosen kami, keterampilan klinis sangat berperan dalam menegakkan diagnosis. Dan itu hanya bisa dikuasai dengan cara mengulang-ulang sesering mungkin dan membaca buku rujukan sebanyak mungkin.
©Gambar diperoleh dari sini

To Michael,
Sistim pendidikan Kedokteran di FK saat ini jauh lebih baik dari pada saat kami masih kuliah tahun 1967-an. Alat peraga, cara mengajar dll masih cara lama.
Komputer, laptop, handphone, tablet PC masih belum dikenal. Kalau Dosen menerangkan mata kuliah Citologi, para student mesti menggambar di buku gambar masing-masing. Mungkin saat ini sudah dipakai Slide show ( MS Power Point ), Studnt dapat mengcopy dalam USB flash dan dilihat pada masing-masing Laptop. Hemat waktu dan gambar lebih bagus. Semuanya akan menyedot biaya study Kedokteran yang makin membesar.
Sistim Ujian dll pun sudah sangat berbeda. Namun semuanya itu pada akhirnya kita harus menghadapi Uian yang benar-benar ( tiil ) yaitu di masyarakat, saat kita praktik melayani para pasien yang datang berobat. Apapun sistimnya, bagi pasien yang penting oenyakitnya dapat sembuh atau minimal berkurang penderitaannya.
Sering kai saya menjumpai teman yang prestasi belajarnya biasa-biasa saja, tetapi setelah praktik ia punya banyak pasien dan teman yang prestasinya bagus, pasiennya tidak begitu banyak. Rejeki emang susah. Dikejar dia lari, tidak dikejar ia datang sendiri.
Tapi jangan kecil hati. Dalam hidup kita mesti jatuh bangun. Kalau tidak pernah jatuh, kapan kita mau bangkit kembali, bukan?
Maaf kalau tidak berknn.
Salam
Basuki Pramana
@Dokter Basuki Pramana
terimakasih atas sharingnya.
kadang2 saya juga sering berfikir, bagaimana med student jaman dulu bisa belajar tanpa ada alat2 bantu saat ini? sekarangpun, dengan majunya teknologi, masih banyak yang sulit dimengerti. semisal ilmu histopatologi, walaupun kami sudah sering melihat gambaran mikroskopiknya, dan bisa di-save di kamera/laptop untuk diulang-ulang, toh tetap saja ada yang kesulitan ketika ujian. maka dari itu saya salut krn med students jaman dulu pasti lebih terampil (sekaligus imajinatif) dibanding sekarang, he he
di balik kelebihan di bidang teknologi, konon sistem pendidikan jaman sekarang (katanya sih…) kurang efektif dibandingkan dulu. yang dibandingkan adalah kurikulumnya.
kurikulum jaman dulu katanya mengajarkan anatomi dan fisiologi di tingkat satu secara keseluruhan, sehingga mhs lebih kokoh dlm ilmu2 kedokteran dasar. sedangkan kurikulum sekarang sudah berbasis KBK, di mana ilmunya diajarkan secara terpecah2 dan diharapkan terintegrasi di akhir pendidikan. sistem ini baru berjalan 6 tahun terakhir, dan hasilnya …? banyak yang bilang untuk kembali ke kurikulum lama saja.
mengenai rejeki, dosen kami pernah berkata ,”pintar saja tidak cukup. tapi juga harus berbudi luhur, ikhlas, bisa komunikasi efektif dan empati pada pasien.”
salam dok
Pingback: Jam Tangan « rod-tobing weblog™