(Gambar Ilustrasi)
Ada beberapa tulisan saya tentang perparkiran kita sehari-hari. Ya, untuk meletakkan motor/mobil di tempat umum itu pun urusannya bisa melebar ke mana-mana. Mulai dari helm hilang, di palak, sampai nggak dapat tempat.
…
Kemarin sore saya berencana pergi ke mesin ATM untuk membayar tagihan internet dan ke minimarket dekat rumah.
Maka sepulang kuliah, saya singgah ke rumah dulu. Setelah meletakkan buku-buku dan laptop, motor Honda Tiger kesayangan dinyalakan untuk dipakai mengantar saya pergi. Rencananya mampir ke ATM dulu, setelah itu baru ke minimarket.
Di dekat rumah ada Bank BNI yang baru dibuka, lengkap dengan fasilitas mesin ATM di sampingnya. Jaraknya dari rumah kami hanya sekitar 3 menit menggunakan sepeda motor. Kebetulan dua minggu yang lalu juga saya membuka /memindahkan rekening di bank tsb.
Singkat kata, saya meluncur ke bank tsb. Sampai di sana, bank sudah tutup walau di dalamnya masih ada aktifitas. Satpam masih berjaga di pintu.
Yang membuat saya heran, ada sekelompok anak-anak muda (4 orang) yang duduk-duduk di pekarangan bank. Mereka sambil tertawa keras-keras. Kalau ada cewek lewat mereka bersiul-siul sambil menggoda, inilah yang saya tidak suka.
Ketika motor saya masuk ke pekarangan bank, spontan salah satu dari mereka meniup-niup sempritan. Saya heran, dia sedang menyemprit siapa? Toh pekarangan bank luas dan banyak tempat parkir.
Motor pun saya letakkan di salah satu sudut, di tempat yang sama persis di mana saya parkir saat membuka rekening dua minggu lalu.
Setelah itu saya menuju mesin ATM untuk melaksanakan kewajiban membayar tagihan. Tidak sampai 5 menit, transaksi beres, saya keluar. Saat itu cuma tinggal saya sendiri yang parkir di situ.
Lalu saya menuju motor (Honda Tiger) untuk pulang. Waktu saya hendak menggesernya (motor ini berat sekali), tiba-tiba mereka anak-anak muda itu mendekat pura-pura ingin membantu saya. Padahal, maaf saja, bukan sesuatu yang sulit bagi saya untuk memundurkan/menggeser motor itu sendirian mengingat pekarangan luas dan saya pun bisa memindahkannya sendiri.
Lagi-lagi dia menyemprit. Aneh juga, karena jarak muka kami cuma satu-dua meter tapi saya disemprit layaknya mobil truk mau keluar.
Akhirnya saya paham, mereka ini jukir (juruparkir) gadungan. Anak-anak muda yang nggak ada kerjaan, lantas menguasai sepetak lahan untuk dijadikan tempat parkir.
Salah seorang dari mereka sempat menengadahkan tangannya yang berisi dua logam recehan, tandanya dia minta uang parkir. Saya heran: cuma parkir sejenak, di tempat yang jelas-jelas bebas biaya parkir, kok ditagih? Apa tadi saya dikasih karcis parkir? Seandainya motor saya hilang, apa dia mau bertanggung jawab?
Mesin motor saya nyalakan, lantas berlalu; saya menolak membayar mereka.
Yang saya herankan, di sana ada satpam dari pihak Bank, tapi mengapa mereka bersikap seolah tidak tahu menahu ada jukir gadungan di pekarangannya?
©Gambar diperoleh dari sini
Benar, sudah sejak lama ada banyak orang-orang dg bermodalkan sebuah Pluit. utk prit..ptir.. yg minta “uang parkir” saat kita hendak meninggalkan tempat itu. Uangnya masuk ke kantong sendiri. Petugas yg ada disana mendiamkan saja mereka, yg mungkin mereka adalah kerabatnya sendiri shg tidak berbat apa-apa.
Kalau kendaraan kita ada yang ganggu atau bahkan hilangpun, mereka tidak akan turut bertanggung jawab. Mereka hanya bertanggung jawab utk memungut uangya saja. Yg bikin jengkel adalah mereka juga memungut uang dari saya saat saya perkir di depan rumah sendiri. Dahulu tidak ada “petugas perkir” semacam itu.
Yah..sekarang susah cari uang, maka bila ada kesempatan mereka kerjakan juga.
@Dokter Basuki
saya sependapat.
sepanjang tidak ada karcis masuk, tidak ada tanda pengenal petugas, dan tidak ada yang mau bertanggung jawab kalau motor/mobil kita tergores, sebaiknya tidak usah bayar sepeserpun.
…
kalau di depan rumah sendiri juga “dipalak” uang parkir, saya akan ajak dia masuk ke dalam rumah lalu saya beri dia “pencerahan”… he he
Wah, saya belum pernah mengalami seperti itu…
@Asop
jangan sampai mengalami, deh…
saya pernah sih ngalamin, tapi saya langsung minta karcis parkir. tapi dia bilang ga ada, trus saya marahin. hehe
nah itu dia… ngga ada karcis parkir kan. kalau kendaraan sampeyan hilang mana ada yang bisa dituntut?
Saya pernah. Tapi saya berikan saja uang 1,000. Kebetulan ada recehan. Kayaknya saya salah ya? Hehehe…
Salam
@Om Dewo
engga salah kok Om. memberi atau menolak, itu tergantung kadar keikhlasan kita