Berapa banyak di antara kita yang senang mengambil gambar (foto) lalu menyimpannya di desktop/laptop? Saya termasuk salah satunya, sering dimintai untuk memotret terutama kalau ada even-even dsb. Akibatnya komputer saya, baik di Drive C, D, hingga Desktop penuh dengan foto, foto, dan foto. Entah itu foto siapa, di mana, semuanya terhambur begitu saja. Beberapa saya buatkan folder khusus. Tapi lebih banyak jumlahnya yang tidak terfolderkan dengan baik.
Maka, begitu ada kesempatan saya bersihkan semuanya. Foto-foto yang tidak bernilai guna untuk disimpan (hanya momen narsis-narsisan, dsb) tanpa ragu saya delete. Adapun yang memiliki nilai dokumentasi saya golongkan sesuai momennya lalu disimpan dalam folder yang dinamai khusus. Supaya lebih gampang dicari bila diperlukan.
…
Ya, begitulah. Zaman kita semakin canggih. Bapak saya pernah berpesan agar jangan sembarangan memotret, karena sayang film negativenya mahal. Maklum, dulu kamera kami adalah merk Fuji yang masih memakai film rol gulungan.
Sekarang kami beralih memakai kamera digital Canon A470 dengan kekuatan 7,1 Megapiksel. Baterainya gampang diisi, memorinya besar… Foto yang diambil bisa disimpan, kalau suka boleh dipindahkan ke komputer, kalau tidak suka bisa langsung di-delete. Benar-benar praktis. Saya sering memakai kamera ini bila ada momen penting atau untuk mendokumentasikan spesimen praktikum di laboratorium.
Teman-teman saya bahkan kameranya yang lebih canggih dan pikselnya lebih besar. Beberapa bisa untuk mengambil video. Proses digitalisasi jadi semakin mudah dan praktis.
Tapi apa efeknya?
Kita jadi senang menghamburkan gambar. Ya. Karena tidak memakai film negatif yang konon ‘mahal’ itu, maka banyak orang mendadak berubah menjadi Narsis. Minta difoto sesukanya, seadanya. Lalu dilihat sekilas, kalau dirasa jelek akan minta difoto ulang. Sampai hasilnya bagus. Setelah puas, “ditunggu tag-an nya di Facebook, ya!” Alhasil komputer kita penuh oleh foto yang, sebenarnya, bagi kita tidak punya makna. Dihapus sayang, disimpan bikin penuh. Jadilah desktop kita sebuah galeri tak terpamerkan.
Saya sempat mencoba mensortir kembali foto-foto di laptop saya, lalu menamainya sesuai dengan even dan waktu pengambilannya. Sayang, memori saya tidak setajam itu (ini saking banyaknya foto). Akhirnya saya membiarkannya tetap bernama sesuai settingan default (IMG_000xx). Kalau harus mencari, maka saya harus memindai semuanya satu per satu. Namun ini dapat dipermudah dengan menggolongkan foto-foto tsb ke dalam folder khusus.
Akhirnya, kemudahan dan kepraktisan di bidang fotografi menghasilkan banyak sampah digital yang “dibuang sayang.”
Wah, Kalau saya manfaatin Picasa untuk nyimpen foto2 yang banyak. Maklum suka foto2 juga.
Di laptop cukup foto2 penting saja
Kalau saya, untuk menamakan foto saya edit namanya sesuai dengan acaranya. Jadi pas ditransfer dari kamera ke komputer, saya beri tambahan nama acara di depan semisal “lamaran mbak desi”, tanpa nama file asli (DSC0001) dihapus.
Sama seperti menyusun rumah, semua masih berguna dan harus disimpan dengan baik..
Kebetulan sy juga suka jeprat jepret mendokummentasikan setiap momen, kemudian menyimpannya dalam folder khusus di laptop atau dikompilasi dalam kaset cdr tersendiri.
Salam hangat dari Kendari.
Diimport ke desktop dgn software saja. Ada yg secara otomatis membuatkan album per event (tanggal). Setelah itu kita bisa custom nama albumnya & bisa ditambah keterangan detailnya.
Salam
@Om Dewo
menggunakan software akan lebih mudah.