Laki-laki berseragam perusahaan katering itu menenteng kresek hitam yang isinya nasi bungkus. Aneh juga, pikir saya, karena ini adalah jamuan makan prasmanan. Semuanya sudah disediakan, untuk apa nasi bungkus? Setelah saya amati, bungkusan-bungkusan itu dibuka satu persatu. Isinya, yaiitu nasi putih minus lauk, dituang ke dalam termos nasi yang, hm.. sudah hampir kosong.
Oooh, ternyata tujuannya untuk menambah stok nasi di termos. Saya menyimpulkan bahwa persediaan makanan di meja sudah hampir habis sedangkan tamu-tamu (mungkin) masih ada yang belum mengambil jatah.
Tapi ada kemungkinan kedua. Bisa jadi semua orang sudah kebagian makanan, hanya saja termos nasi harus tetap dijaga ada isinya. Biar kelihatan penuh. Ada kesan makanan yang disiapkan lebih dari cukup, pertanda kesungguhan hati sang empunya hajat.
Baiklah, saya tidak akan berpanjang-panjang membahas itu.
Walau jarang mengikuti acara makan prasmanan karena tidak ada yang mengundang, banyak hal menarik yang saya amati mengenai perilaku orang di jamuan makan.
Seringkali pada acara hajatan, seminar atau semacamnya, makanan disediakan secara prasmanan atau ambil sendiri. Dari jauh makanan terlihat berlimpah. Sayangnya limpahan berkat ini tidak diimbangi dengan perilaku yang sejajar.
Misalkan acara makan belum waktunya hidangan sudah tersaji di atas meja. Mereka yang tidak sabaran, dengan santai ngeloyor ke meja makan untuk mengambil jatah duluan, padahal belum dipersilakan oleh empunya hajat atau panitia setempat. Alasannya? Ada yang bilang sudah kelaparan, ada juga yang bilang tidak tahu sopan. Sedang bapak memilih berpikir positif, “Mungkin saja orang itu punya sakit maag sehingga harus makan duluan”.
Di lain waktu, ketika mengantre di meja makan, ada orang yang tiba-tiba memotong barisan untuk mendapat giliran duluan dalam mengambil makanan. Saya pernah mengalami hal seperti ini. Setelah antre di meja makan sepuluh menit, tiba-tiba seorang wanita sebaya saya nyelonong motong ke depan barisan. Spontan saya nyeletuk dari belakang, “Bu, kayanya Ibu udah lapar banget, ya?”. Respon ybs hanya diam.
Satu lagi perilaku lain adalah mengambil makanan secara berlebih-lebihan, bahkan sampai membungkus lauk untuk dibawa pulang. Ajaib. Padahal ada orang lain yang belum kebagian makan, tetapi jatah sudah habis duluan.
Setelah jamuan besar selesai, seringkali saya dapati banyak makanan yang tersisa, bahkan utuh tidak disantap sama sekali. Sangat ironis, mengambil banyak malah tidak dihabiskan. Mubazir.
Apakah perilaku semacam ini hanya milik kalangan tertentu saja? Rasa-rasanya tidak, sebab di acara mewah di hotel atau di sunatan anak tetangga sebelah pun, tingkat macam ini dapat dijumpai. Artinya ini bergantung pada karakter manusianya, bukan pada venue atau menu yang disajikan.
Padahal rasanya tidak sulit untuk berlaku disiplin tertib serta tidak berlebih-lebihan ketika menghadiri jamuan makan. Toh semua yang hadir pasti akan kebagian jatah masing-masing.
Tapi inilah cermin kita. Masalah disiplin dan kebiasaan berlebih-lebihan memang penyakit sosial karakter. Tidak mengenai semua, namun kuantitas repetisi lama-kelamaan menjadi stereotip yang tidak bisa dibendung.
Anda, bagaimana?
Nah, harusnya si penggelar pesta memperkirakan jumlah tamu yang datang.
Sebagai tamu, kita harus tahu diri. Antre dengan baik, dan makan juga dengan “baik”. Saya pun tahu diri, kadang saya lapar mata, jadi pengen mencoba semua makanan yang ada.
Tidak bermaksud membela, namun mencoba berpikiran positif, mungkin para tamu yg mengambil makanan duluan bisa jadi karena proaktif. Hahaha…
Tapi memang menyedihkan jika bertemu orang-orang model serobot antrian, mengambil berlebihan, menyisakan makanan yg diambil (atau malah tidak dimakan sama sekali?). Seringkali melihat orang yg menaruh piring/gelas sembarangan setelah makan, misalnya di bawah kursi atau di lantai begitu saja. Ada baiknya jika ditaruh di keranjang besar yg biasa disediakan pihak catering utk menampung piring/gelas kotor.
Salam
Budaya aji mumpung. Mumpung gratis, mari kita ambil berlebihan, nggak habis nggak apa-apa, gratis ini! Kalo perlu bungkus dan bawa ke rumah! Itulah memang sifat bangsa kita yang katanya ramah, sopan, beretika dan lain-lain predikat bagus lainnya namun ternyata….. (terusin sendiri!
)
Kalo serobot antrian bukan hanya di acara makan2 di pesta aja, di antrian biasapun kita sering melihat orang berusaha nyerobot. Bukan hanya pria tapi juga wanita. Dulu, di antrian pembelian tiket kereta api, orang-orang yang datang terlambat biasanya mulai dengan bertanya basa-basi pada orang yang berada di antrean depan, terus menjadi sok akrab, yang berujung pada usaha nitip beli karcis. Memang sih secara fisik ia tidak nyerobot, tapi ia ikut menghabiskan jatah tiket untuk calon2 penumpang lainnya di belakang yang sudah antri terlebih dahulu.
Yah jadi itulah budaya buruk bagi kebanyakan orang2 kita yang katanya penuh etika itu walau tentu tidak semua orang Indonesia begitu saya yakin. Budaya berlebihan, membuang-buang barang karena serakah dan mudah didapat, dan budaya tidak disiplin mulai sekarang harus mulai dibuang jauh-jauh.