Peturasan Umum Bertarif Khusus

Hari gini mau yang gratisan ??? Kencing aja bayar!!

Kedengarannya olok-olok yang sinis bin sarkastis. Walau mungkin juga sedikit bernada gurau. Memang, buang air  [di tempat umum] itu [sebagian besar] tidak gratis alias bayar. Kecuali yang dimaksud dengan tempat umum adalah pinggir jalan tol atau tanah kosong kebun pisang, itu soal lain.

Masalah buang air kecil memang penting bahkan hakiki. Alarm fisiologis itu harus segera dituruti kalau memang sudah waktunya. Maka perhatikanlah toilet selalu ada sedia di tempat-tempat umum dan sarana publik tempat kita punya gawe. Bagian dari serpis, kata pihak pengelola. [benarkah?]

Jadi, beberapa waktu lalu saya  ada kegiatan di salah satu stadion olahraga tenar di Jakarta. Buat yang gemar sepakbola pasti tahu stadion ini. Stadion ini rutin masuk layar gelas. Bukan hanya karena seringnya event besar persepakbolaan diselenggarakan, melainkan juga karena sering terjadi demonstrasi.

Bukan, bukan stadionnya itu yang mau saya bahas, melainkan… bilik peturasannya. Peturasan, bahasa halus dari toilet atau WC alias kakus. Saya memang gemar memperhatikan peturasan di tempat-tempat umum. Seperti apa kebersihannya, bagaimana akses ke dalamnya, jumlah urinoir hingga  masalah hak guna: gratis atau bayar. Apalagi yang terakhir itu penting :D

Pada beberapa tempat, katakanlah mal perbelanjaan atau ruang tunggu publik, biasanya tidak sulit mencari toilet umum. Petunjuk visual selalu dipasang tinggi-tinggi, minimal jelas dalam lapang pandang kita. Boleh jadi kelihatan dari jarak belasan meter. Walau pada beberapa tempat ada juga yang tidak menaruh marka sama sekali, sehingga tugas kita diperbanyak dengan bertanya kepada pengelola.

Perhatikan juga terkadang letak toilet umum agak tersembunyi dari permukaan aktifitas manusia . Walau diberi amaran, bisa saja Anda harus berjalan sebanyak duapuluh meter tambahan dari papan petunjuk di luar.  Ada kesan bahwa letak toilet selalu disembunyikan di bagian belakang, dekat gudang penyimpan perkakas mas OB atau pintu keluar darurat. Sebuah ujian mental bagi yang kebelet kamar kecil.

Di stadion tempat saya ada gawe tersebut, toiletnya terletak di bawah tribun penonton. Kalau dari Anda datang dari arah luar [lokasi papan penunjuk], Anda harus masuk gerbang berliku-liku tempat orang biasa mengantri. Lalu jalan kaki belasan meter sebelum bertemu dengan yang namanya toilet.

Bicara kualitas [kebersihan], masing-masing toilet punya cerita sendiri. Ada yang bersih-resik-wangi, ada juga yang dekil seperti tidak terurus. Dinding dan lantai keramik yang kotor  jadi saksi bisu tentang kesungguhan hati pengelola gedung.

Saya pernah mendapati ada toilet yang sangat bagus, ini biasanya di hotel-hotel atau rumah makan yang punya manajemen kebersihan yang baik serta mas opisboi yang selalu siaga. Di dinding/pintu keluar bilik  ada lembar checklist hasil inspeksi kebersihan supervisi hari ini. [toilet saja punya supervisor!]. Benar-benar tertata dan meng[k]ilat, boleh membuat orang betah. Mereka yang awalnya hanya berniat buang air jadi pikir-pikir untuk mandi sekalian.

Tapi ada juga bilik peturasan, yang… wow… sepertinya tidak pernah ketemu karbol. Dinding dan lantai yang sejatinya mengkilat justeru berwarna coklat seperti karat besi, entah karena penumpukan garam-garam mineral atau sebab lainnya. Kualitas dan warna air yang tidak bening sering membuat saya berimajinasi yang aneh-aneh. Bahkan ada bilik yang airnya macet/mampet atau tidak ada gayung sama sekali. Buat yang sudah terlanjur “setor” duluan baru kemudian nyadar kerannya mampet, bakal kelabakan mencari jalan keluar. Tissu? Gantungan handuk? Jangankan itu, engsel penguncinya saja kadang tidak cukup kuat untuk meyakinkan kita kalau pintunya tertutup.

Gambar-gambar ini saya ambil dari bilik peturasan di stadion tersebut. Ember/drum kecil itu bukan tanpa maksud, sebab pembilas urinoirnya tidak jalan. Maka guyurlah buangan Anda secara manual, satu gayung untuk beramai-ramai, bergantian. Mengenai kuman yang pindah dari satu tangan ke-tangan lain via gayung itu rezeki Anda. :D

Sekeluarnya dari bilik toilet saya berhadapkan ‘kasir’ yang sudah menunggu bertemankan kotak sumbangan. Biarpun istilahnya ‘sumbangan’ tapi untuk BAK dan BAB sudah ada taripnya masing-masing.  Adapun cuci tangan atau sekedar membasuh muka dianggap sama dengan BAK. Biasanya berkisar lima ratusan hingga seribu rupiah per kali masuk. Apakah Anda sekedar cuci-cuci muka atau mandi hingga separo bak habis, itu tergantung bagaimana Anda mau mengaku atau tidak.

Ikhlas? Belum tentu juga. Dengan kualitas kebersihan yang bal-balan siapa yang sudi membayar. Tapi jarang juga yang berani ngeloyor begitu saja. Bisa-bisa ditegur, ” Mas, bayar dulu toiletnya!”

Padahal, hmm, bukankah toilet itu bagian dari layanan? Kenapa kita harus bayar? Lantas kalaupun bayar, kenapa kualitasnya tidak dipelihara?

“Ah kau ini, mau kencing saja kok ribut. Nggak suka ya sana di semak belukar!,” sergah seorang teman. Mungkin dia tidak tahu kalau di tangannya ada bakteri oleh-oleh dari memakai gayung ‘bersama’.

:mrgreen:

6 thoughts on “Peturasan Umum Bertarif Khusus

  1. peturasan, amaran, kosakata sampeyan cukup mengagumkan :smile:

    ngomong2 soal wc umum, jadi inget waktu di stasiun gambir, yang deket mushola, pintunya gak bisa dikunci. pas lagi jongkok ada bapak2 mbuka dengan sedikit maksa, asyem! :twisted:

    mungkin si bapak udah nggak tahan lagi :mrgreen:
    /rodry/
    mastein baru memposting… Multi Level Marketing atau Money Game?

  2. Tenang aja, masalah kuman berpindah tangan bukan hanya di WC aja kok kalo kita minjem pulpen (apalagi kalo dari orang yang tidak kita kenal) juga belum tentu kuman yg berpindah tangan lebih sedikit atau kurang patogenik daripada kalo kita megang gayung di WC :mrgreen:

    ya.. tapi kuman2 di WC lebih ramai jenisnya.. Treponema dan sebangsanya boleh ada :)
    Yari NK baru memposting…. Perempuan itu Goblok!

  3. Seringkali kalau sudah kebelet banget jadi ngga mikir lagi bersih apa kotor. Yg penting hajat bisa dikeluarkan. Hehehe…

    Syukurlah peturasan di RS bersih & bersupervisi. Hehehe…

    Salam

    peturasan RS salah satu contoh peturasan yang paling bersih yang pernah saya lihat :)
    Emanuel Setio Dewo baru memposting… Tukul Kopdar

  4. Kuman2 di WC lebih ramai hanya jika orang2 yang sering datang memang membawa penyakit (kecuali tentu saja lubang pembuangannya sendiri). Namun begitu hal tersebut bisa juga terjadi kalau kita meminjam barang atau menerima uang, kita tidak tahu siapa sebelumnya yang telah memegang barang2 tersebut. Kalau orangnya “sehat-sehat” ya relatif kita aman begitu juga dengan di WC. Treponema? Jangan terlalu khawatir, Treponema menyebar lewat kontak person-person langsung, Treponema juga sulit bertahan pada suhu di bawah 86°F (30°C) atau di atas 98°F (37°C). Itulah sebabnya dia sulit survive pada temperatur kamar dan lagipula ia bersifat microaerophilic yang membutuhkan udara dengan kadar oksigen kurang dari 20%. Ia tidak akan bertahan lama di luar tubuh manusia. Jadi jikalau kita hanya menyentuh gayung di WC saja misalnya, sangat kecil kemungkinan kita kejangkitan Treponema. :)

    matur nuwun infonya… wah om yari ini tahu banyak tentang ilmu perkumanan… microbiologist-kah? kita harus lebih sering berdiskusi kalau begitu… :D
    Yari NK baru memposting… Perempuan itu Goblok!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s