“Bos, saya punya Nokia 6303 nih, masih bagus. Kalau mau dijual laku berapa ya?” kataku
Sambil melihat-lihat dia berkata “Oh yang ini kita hargain lima ratus rebu pak”
Dalam hati aku protes “Lah padahal waktu gue beli sepuluh bulan lalu harganya sejuta dua ratus, Mas…”
Begitulah isi percakapan dengan salah seorang pedagang ponsel di sebuah sentra Jakarta Pusat. Awalnya aku hanya berniat mengembalikan kartu garansi ponsel lain (Nokia E63) yang baru dibeli bapak beberapa hari yang lalu ke sebuah toko. Namun setelah itu muncullah ide “jahil” untuk mengetahui berapa sih harga pasaran ponsel yg kupakai saat ini apabila dijual/tukar-tambah. Berharap harganya masih bersaing dengan yg baru,..
Eh ternyata tidak. Alangkah malang ponsel yang harganya sejuta dua ratus ribu dalam tempo kurang dari setahun merosot dan cuma dihargain lima ratus ribu. Padahal tadinya berharap sekitar sejutaan atau paling tidak delapan ratus ribu lah,.. (hitung2 buat nambahin beli ponsel QWERTY)
Penyusutan harga yang sedemikian cepat tidak cuma terjadi pada telepon genggam, setidaknya yang kualami. Di kesempatan lain aku mendapati harga printer Canon IP 277o dibanderol Rp. 300.000 dari sebelumnya (sekitar 2-3 tahun lalu) sekitar sejuta rupiah. Sedangkan printer yang kupakai saat ini (Canon IP 1980, spek-nya sedikit di bawah IP 2770) juga harganya terjun bebas lebih dari 50% dibanding waktu dibeli dua tahun silam.
Tidak jauh beda dengan ponsel dan printer, Netbookku (MSI Wind U-100) mengalami hal serupa. Tiga tahun lalu harganya 5,5 jt, tapi kemarin di Mangga Dua komputer kecil ini dilego 2,5-3 jtaan saja, kondisi baru.
Mengapa barang elektronik semacam ini “cepat” sekali turun harganya? Wah,..dugaanku serbuan produk baru yang lebih canggih dan elok dibanding produk keluaran lama adalah biang keladinya. Barang baru memang selalu menawarkan performa yang lebih baik dari generasi pendahulunya. Hal ini berimplikasi kepada,… tergusurnya popularitas dan harga barang lama. Konsumen akan selalu merasa ketinggalan:
- Ponsel candybar harganya turun akibat kehadiran ponsel QWERTY dan ponsel cerdas (smartphone)
- Printer inkjet digeser oleh printer multifungsi yang juga bisa berfungsi sebagai scanner
- Komputer berotak intel i3 menempati posisi yang sebelumnya diduduki komputer intel Core2 Duo. Dan masih banyak lagi.
Turunnya harga barang elektronik dalam tempo singkat ini bagi konsumen punya dua efek:
Yang pertama, kalau misalnya saat ini kita dengan gagah menenteng gadget baru,… maka jangan meringis kalau enam bulan lagi gadget kita dianggap “murahan” bahkan dikatain “jadul”. (ini benar-benar terjadi saat kami melego ponsel bekas merk Nokia ke sebuah toko, dan oleh bandar cuma dihargai 70 ribu rupiah. Jangan tanya berapa harganya dulu.)
Yang kedua,… orang yang dulunya belum sanggup membeli barang elektronik karena harga yang mahal, maka sekarang atau besok bisa menentengnya walau dengan prestise yang nyaris sirna.
Teknologi berkembang super cepat. Lebih cepat melampaui kantong kita, dan secepat ia menggeser kebanggaan yang baru saja dimiliki konsumennya setelah membeli suatu produk.
Ya karena itu belilah jika butuh fungsinya bukan gengsinya ^_^
HP ku harganya 100 ribuan itupun dikasih orang..hi hi hi….
happy new year kak..
hahaa..
Konon barang elektronis sudah merupakan komoditas. Siklus hidupnya semakin pendek dgn hadirnya model & teknologi baru. Dulu siklus model 1 tahunan. Kini sudah 3 bulanan.