Lagi, mengenai rokok…

Ini adalah postingan saya yang ketiga tentang rokok. Saya begitu antusias ketika membahas masalah ini, apalagi saya tahu benar kalau kanker paru akibat rokok adalah keganasan nomor satu pada pria di Indonesia.

Semua juga tahu merokok itu tidak sehat, lebih banyak rugi ketimbang untungnya. Selain aspek kesehatan, juga mempengaruhi aspek sosial ekonomi daripada si perokok. Jadi, saya mencoba mengidentifikasikan nih. Dari segi sosial ekonominya, ada lima golongan makhluk membuat saya semakin tidak suka kalau punya kebiasaan merokok (dan kalau kedapatan merokok di depan saya):

1. Dokter

Jelas saja, dokter harus anti, bahkan haram dengan yang namanya merokok. Sebagai ujung tombak layanan kesehatan di masyarakat, tugas dokter adalah mempromosikan kualitas hidup masyarakat, bukan malah menjadi contoh jelek. Dokter itu teladan di masyarakat, setiap tindakannya harus mencerminkan pola hidup sehat. “Tuh, dokter aja merokok, masa kita-kita enggak?”, begitu yang pernah saya dengar dari seorang sahabat mengomentari tetangganya seorang dokter yang punya kebiasaan merokok. Saya bingung apakah dokter yang punya kebiasaan merokok itu dulu sewaktu mahasiswa rajin datang kuliah paru apa enggak? Jangan-jangan sering bolos tuh,..

2. Anak sekolahan

Bukan sekali-dua kali saya  memergoki anak sekolahan yang cabut (membolos) lalu nongkrong di warung sambil ngerokok (dan ngomong jorok). Duh, kalau yang ini rasanya pingin saya tonjokin satu persatu. Masa’ anak ingusan, bahkan yang sudah SMA sekalipun, yang nota bene belum punya penghasilan sendiri enak-enaknya merokok sambil bolos pula dari sekolah! Jadi menipu guru dan orangtua sebanyak dua kali. Saya jadi pingin tahu mereka ini diajarin apa yaa sama orangtuanya di rumah? :-(

3. Guru

Kalau yang barusan anak sekolahan, maka sekarang gantian gurunya yang juga tidak boleh merokok. Kenapa? Karena guru itu, sesuai namanya, digugu dan ditiru. Kalau gurunya sendiri merokok (di depan kelas pula!) lalu muridnya ada empat puluh orang, saya jamin ajaran sesat sang guru bakalan tersimpan dalam benak siswanya dan menjadi pembenaran bagi mereka untuk merokok di kemudian hari. Saya jadi teringat akan seorang guru kimia  (almarhum) sewaktu saya masih kelas 1 SMA. Dengan pede dan penuh stylish sembari memegang rokok beliau pernah berkata kepada kami, “Buat kamu semua rokok ini haram, tidak boleh! Tapi buat saya, rokok ini jadi… obat. Kalau nggak ada rokok ya nggak bisa ngajar saya…” Duh! (Dan setahun kemudian beliau meninggal dunia, saya kurang tahu apa penyebabnya).

4. Wanita

Apa pendapat seorang pria melihat perempuan merokok? Pasti jijay, ilfil, muak, tidak percaya, apalagi yaa…? Saya pernah duduk-duduk di sebuah kantin, di sebelah saya seorang wanita yang begitu selesai makan dengan santainya mengeluarkan sebatang rokok menthol, menyulut dan menghisapnya dengan penuh percaya diri. Seperti tidak peduli kalau semua mata tertuju kepadanya, asapnya kemana-mana.

Kenapa wanita tidak boleh merokok? Selain karena tidak sehat, wanita adalah teladan bagi yang mereka lebih muda (termasuk anak-anak) karena dianggap bebas rokok dan lebih peduli pada kesehatan (tidak seperti pria perokok). Bahkan ada suatu anggapan bahwa wanita yang merokok itu identik dengan kehidupan yang amburadul, remang-remang, pergaulan yang tidak benar, dllsb…

5. Orang yang susah hidupnya

“Sudah miskin, merokok pula!” Itu kalimat yg sering saya gumamkan ketika melihat orang-orang terpinggirkan, entah itu tukang becak, pengasong, apalagi penggangguran yang kedapatan merokok di depan saya. Betapa tidak! Penghasilan pas-pasan bukannya nabung atau menyisihkan uang buat anak-istri malahan beli rokok sampai setengah bungkus (*karena cekak*). Padahal harga rokok yg dihisap, kalau dikumpul-kumpul, bisa buat beli beras atau buku sekolah anaknya. Maafkan saya, tapi bagi saya orang-orang ini adalah jenis orang yang tidak tahu diri.

Dan dari beberapa golongan di atas, bisa jadi ada golongan lain yang tidak teridentifikasi. Terserah anda kalau ingin menambahi. Tapi setidaknya saya jadi punya beberapa kriteria tentang orang yang dikata layak untuk merokok (*layak bukan berarti pembenaran!):

1. Bukan dokter. Dan bagi dokter perokok, jangan mengotori kesucian profesi penyembuh dengan kebiasaanmu!

2. Bukan anak sekolahan. Bisa cari duit yang banyak dulu baru boleh merokok!

3. Bukan guru. Kalau guru merokok mending suruh ngajar satu jam per minggu saja!

4. Bukan wanita.

5. Bukan orang yang susah hidupnya. Alias orang kaya! Sebab mereka punya banyak uang untuk membayar kami para dokter untuk anggaran kesehatan yang harus dikeluarkan untuk menganggulangi penyakit yang dialaminya kelak.

Jadi, kalau anda perokok, apa anda memenuhi kelima kriteria saya di atas?

This is a larger squamous cell carcinoma in which a portion of the tumor demonstrates central cavitation, probably because the tumor outgrew its blood supply.Squamous cell carcinomas are one of the more common primary malignancies of lung and are most often seen in smokers.

Ket gambar: Ini adalah kanker sel gepeng, di mana bagian tumor memperlihatkan rongga-rongga akibat pertumbuhan tumor melebihi suplai darah. Merupakan jenis tumor primer tersering dan ditemukan pada perokok. (tambahan: sering ditemukan pada saat autopsi)

Sumber: Pulmonary Pathology

6 thoughts on “Lagi, mengenai rokok…

  1. Pingback: Larangan merokok di angkutan umum | rod-tobing weblog™

  2. Pingback: Dokter Gemuk dan Merokok « rod-tobing weblog™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s