Aku teringat akan kejadian menarik sewaktu masih di bangku SMA. Sebagaimana sekolah negeri pinggiran kota pada umumnya, siswanya terdiri dari bermacam-macam karakter. Ada yang rajin, tapi tak sedikit juga yang bandel dan tukang bikin onar. Kalau ada tawuran, kamilah salah satunya.
Siang itu cuaca panas sekali, kira-kira jam setengah dua siang. Namun guru yang semestinya mengajar di jam terakhir sebelum pulang, malah tidak hadir. Entah kenapa hal yang sama juga dialami oleh kelas-kelas lain di sebelah kelasku. Mungkin gurunya sudah malas datang karena panas, atau malah pulang duluan (namanya juga PNS). Alhasil murid-murid jadi ribut dan gaduh di kelas, persis seperti di pasar. Banyak juga yang keluar ke lapangan lalu main futsal sambil menunggu lonceng pulang. Beberapa duduk-duduk di kantin sambil menikmati gorengan sisa istirahat tadi. Pokoknya suasananya jauh dari kegiatan belajar-mengajar.
Akan tetapi, sebagian dari mereka malah nongkrong di kamar mandi. Lho, ngapain? Ternyata mereka sedang merokok sambil ngumpet biar nggak ketahuan. Kebetulan kamar mandi siswa di sekolah kami kondisinya jauh dari layak untuk disebut sebagai kamar mandi. WCnya jorok, pintunya jebol, airnya mati, lantainya penuh lumpur. Lebih cocok untuk simpan kambing daripada disebut kamar mandi. Sebisa mungkin jangan BAK dan BAB di situ, bisa-bisa pingsan saking baunya.
Nah, teman-teman kami yang punya kebiasaan merokok memanfaatkan kamar mandi sebagai tempat persembunyian mereka. Bisa jadi karena tidak ada orang yang mau menginjakkan kakinya di kamar mandi itu, kecuali kalau benar-benar lagi kebelet. Biar lebih aman lagi, selain bersembunyi, biasanya mereka juga menempatkan seorang ‘penjaga’ di depan pintu kamar mandi, tugasnya untuk mengawasi kalau ada guru yang datang mau merazia. ‘Penjaga’ nya bisa berganti-gantian supaya semua kebagian merokok.
Namun apes, ternyata mereka lengah sekali ini. Tidak ada ‘penjaga’ yang ditempatkan untuk ‘mengamankan’ jalannya ‘pesta’. Mungkin semuanya lagi pada sakaw di dalam. Di saat yang sama seorang guru matematika yang juga merangkap guru piket (lumayan galak) masuk ke kamar mandi itu. Entah siapa yang memberitahu beliau kalau ada siswa yang merokok di dalam kamar mandi tsb, tapi yang jelas… beliau langsung menyeret semua murid yang kedapatan merokok di situ, lalu ditampar satu-satu dan disuruh jalan jongkok dari WC ke kantor kepala sekolah. Bahkan asap dan bau rokok masih tercium wanginya. Total kira-kira ada enam-tujuh orang yang terjaring razia ini, belum lagi yang sempat kabur lewat jendela kamar mandi
Kesemuanya mendapat hukuman berupa sanksi tertulis hingga surat pemanggilan orang tua.
Beberapa hari kemudian aku harus ke ruang guru karena ada sesuatu (mengambil buku gambar). Kalau mau ke situ harus lewat meja guru piket terlebih dahulu. Saat aku melewati meja guru piket, ternyata… guru yang kemarin merazia siswa yang merokok di kamar mandi, malah sedang enak-enakan merokok sambil ngopi-ngopi bareng rekan-rekan guru lainnya yang juga merokok. Cape deh.
Siswanya dilarang merokok, kok, malah gurunya sendiri merokok? Mestinya khan guru memberi contoh yang pantas ditiru, iya nggak?
Mestinya guru tsb dirazia juga. Xixixi…
@om dewo
ya mestinya sih begitu… tapi kalau gurunya ikut dirazia, pasti bakalan ribut karena (1) siapa yang berhak merazia (2) tidak ada perda-nya.
ngomong2 ttg guru yang merokok, pernah salah satu guru kimia ku waktu sma bilang begini (di depan kelas): murid-murid, kamu semua dilarang merokok. tapi kalau saya, rokok ini justru jadi obat, yaitu pengobat stres dan sakit kepala. (sambil ngisap rokok dalam2 di depan seisi kelas)
bhaaa….
Seperti kata peribahasa
Guru kencing berdiri, Murid kencing berlari..
hahahah
Pingback: Lagi, mengenai rokok… « rod-tobing weblog™