Nggak seperti hari-hari biasa, hari ini aku pergi ke kuliah naik ojek. Biasanya naik sepeda motor sendiri, tapi karena aki-nya sudah soag sehingga agak sulit untuk distater. Ditambah kondisi jalanan yang baru hujan dan becek di mana-mana, membuatku malas bermanuver naik motor melintasi genangan-genangan air itu. Apalagi ini hari Jumat dan aku pakai batik… (*ngga nyambung*)
Di tempatku sangat mudah mencari tukang ojek. Selalu ada hampir di setiap gang. Mereka secara aktif memanggil calon penumpang yang kira-kira perlu jasa ojek, seperti penumpang yang turun dari bus atau pejalan kaki yang keluar dari gang. Di satu pangkalan bisa ada lima sampai delapan motor, bahkan ada yang sampai puluhan kalau letaknya di persimpangan jalan utama. Untuk dari rumah ke kampus dengan jarak tempuh sekitar 3 kilometer, ongkos yang biasa kukeluarkan sekitar Rp. 7.000,-
Ongkos ini sudah standar dari dulu. Tidak perlu tawar menawar lagi, semua tukang ojek pasti mau nerima kalau sudah diberi segitu (lha kok maksa ya…). Pernah juga sekali waktu kukasih selembar lima ribuan tetap diterima juga.
Menjamurnya tukang ojek seperti ini menurutku bisa dilihat dari sisi lain. Yang pertama pasti adalah tanda semakin sempitnya lapangan pekerjaan lain sehingga membuat mereka menjalani profesi ini. Bahkan ada tukang ojek yang mangkal sampai 24 jam untuk menunggu penumpang. Berarti selain pekerjaan yang sulit juga persaingan antar sesama tukang ojek pun menjadi tantangan sehingga muncul inovasi demi kelangsungan hidup. Ya seperti yang mangkal 24 jam itu, atau ada tukang ojek yang memberi nomor hape-nya kepada penumpang. Aku sendiri pernah disodori nomor hape seorang tukang ojek, katanya biar tengah malam pun akan dilayani. Kok jadi merinding,..
Sesama tukang ojek juga sering timbul gesekan. Tidak jarang sesama tukang ojek berantem gara-gara rebutan pangkalan atau rebutan sewa (penumpang). Gesekan kecil seperti itu bisa berubah jadi gesekan antar kampung, ujung-ujungnya masyarakat yang jadi resah.
Ada yang menarik. Setiap kali naik ojek, aku merasa sepeda motornya baru terus ya? Mungkinkah seorang tukang ojek bisa punya motor baru dengan mudah? Bisa jadi, kalau melihat sistem saat ini. Kebutuhan orang akan sepeda motor diimbangi dengan mudahnya cara mendapatkan kredit bunga lunak. Syarat gampang. Cukup siapkan KTP, uang tiga ratus rebu, sepeda motor bisa dibungkus dan dibawa pulang (lalu dipakai ngojek). Tiga bulan nggak bayar kredit, motor ditarik lagi sama pihak dealer. Solusinya gampang: buat kredit baru lagi…
Yang terakhir agak bikin susah yaitu kemacetan lalu lintas yang ditimbulkan oleh pangkalan-pangkalan ojek dadakan. Kadang tukang ojek memarkir sepeda motornya hingga memakan separo badan jalan, apalagi kalau jalannya sempit dan di persimpangan pula. Seperti di kawasan Pangkalan Asem, di situ ada pangkalan ojek besar dengan jumlah armada hingga tiga-empat puluhan motor. Mereka sengaja mangkal di jalan besar di bawah jembatan penyeberangan. Bisa jadi penumpangnya banyak. Tapi pangkalan ojek itu justru bikin kemacetan kecil apalagi kalau ada mobil besar (bus, truk) mau lewat. Tapi sepertinya mereka cuek saja, yang penting penumpang tetap berdatangan.
Tapi biarpun bikin macet, di sisi lain justru kalau lagi kena macet di jalan raya ya paling bagus naik ojek biar bisa selip-selip.

Paling serem adalah saat para tukang ojek ini jemput bola. Kalau ada bis atau angkot mau berhenti, mereka langsung ngebut menyongsong para calon penumpang yg bahkan belum turun dari bis/angkot.
Karena seringkali terburu-buru dan berebutan, para tukang ojek ini kerap nekat tidak memperhatikan kanan-kiri, depan-belakang, dan tentu saja membahayakan pengguna jalan lain. Dan tentu saja bikin macet…
Hu-uh…