“Harus dibedakan antara banjir dan genangan. Kalau banjir itu satu dua hari air di situ. Sedangkan genangan air itu lewat. Ini saya jelaskan perlu ada pemahaman tentang itu” (Fauzi Bowo, Oktober 2010)
Barangkali bang Foke tidak mengerti masalah apa yang sebenarnya sedang terjadi.
Hujan deras yang mengguyur kota Jakarta beberapa waktu silam benar-benar membuat lalu lintas babak belur. Ruas jalanan yang sehari-harinya memang sudah macet, akibat ‘genangan air’ berubah menjadi lumpuh total. Nggak tanggung-tanggung, mulai dari tengah hari hingga pagi buta jalanan macet total. Kendaraan tidak bisa bergerak karena dihadang air. Yang punya motor terpaksa mendorong karena mesin kemasukan air.
(Nb: aku sempat membuka Twitter pukul setengah dua pagi setelah membuat tulisan yang kemarin. Ada seorang teman yang dalam status Twitternya mengaku sudah terjebak macet selama empat jam lebih. Ada yang terpaksa menginap di pinggir jalan sambil menunggu pagi. Bahkan, saking lamanya, ada yang argo taksinya mencapai satu juta rupiah lebih!)
Tentu saja besoknya banyak orang, termasuk di social media, berbondong-bondong mengarahkan kritik tajam-pedas kepada Bang Foke si Ahlinya Jakarta. Bagaimana tidak, semua masih ingat di masa kampanyenya sewaktu Pemilihan Kepala Daerah, Foke mengklaim dirinya Ahlinya Jakarta, tahu bagaimana cara mengatasi macet dan banjir. “Serahkan Jakarta pada Ahlinya”, begitulah janji yang diumbar Foke saat kampanyenya tiga tahun silam. Nyatanya, setelah tiga tahun itu pula sang Ahli belum menampakkan kemajuan berarti.
Yang mengherankan setelah peristiwa banjir-macet itu, saat merasa dirinya digugat dan dikritik, Foke malah balas menantang:
“Saya terima kasih mereka mengomel, kalau tidak mengomel mereka bisa frustasi. Saya kira itu hak masyarakat, silakan saja. Kami akan merespon itu. Class action kan akan ada klasifikasi dan kriterianya, tidak bisa semua orang bisa mengajukannya.” (Fauzi Bowo, Oktober 2010)
Jawaban yang seperti ini bukannya melegakan masyarakat, malah semakin memperburuk suasana. Ujung-ujungnya bisa menjatuhkan pencitraan sang Ahli. Justru akan lebih baik jika Foke tidak usah berkomentar saja, atau menerima kritik dengan senyum dan wibawa.
Dan ketika ditanya lebih jauh lagi mengenai banjir, Foke malah mengelak:
“Harus dibedakan antara banjir dan genangan. Kalau banjir itu satu dua hari air di situ. Sedangkan genangan air itu lewat. Ini saya jelaskan perlu ada pemahaman tentang itu” (Fauzi Bowo, Oktober 2010)
Ha ha ha… sungguh menggelikan. Foke sepertinya mencoba mengalihkan perhatian dari ‘masalah banjir’ menjadi ‘definisi banjir’. Saya nggak peduli, apakah mau disebut banjir, atau genangan air, atau empang, atau waduk, yang jelas… genangan air itu sudah menimbulkan kemacetan dan frustasi di masyarakat. Lagipula, apa sih bedanya genangan air dengan banjir? Bukankah lautan juga merupakan ‘genangan air’?
“Banjir dan macet tidak hanya di Jakarta, tapi dimana saja. Saya yakin kalau sistemnya baik, maka kita bisa mengatasi banjir” (Fauzi Bowo, Oktober 2010)
Ada lagi… Foke juga mengeluhkan pemberitaan media yang dinilainya terlalu membesar-besarkan:
“Padahal Banjir di Sarinah hanya 30 cm.”Yang nulis banjir di Sarinah itu 40 cm siapa? Kemarin itu cuma 30 cm,” balasnya. (Fauzi Bowo, Oktober 2010)
Pertanyaannya, apakah banjir setinggi 30 cm itu lebih baik dibandingkan banjir setinggi 40 cm? Kalau banjir, mau setinggi apapun ya tetap menimbulkan masalah. Setinggi 30 cm pun banjir itu sudah menghambat lalu lintas, merusak mesin kendaraan, membawa kuman-kuman selokan dan penyakit…
Alasan-alasan lain yang sering dikemukakan seperti drainase jeleklah, tata kota amburadullah, cuaca buruk, atau perilaku masyarakat. Lucunya, alasan yang dikemukakan malah membuat kritik terhadap dirinya semakin gencar. Bukankah memang tugasnya memperbaiki drainase dan tata kota?
Ah, susah rasanya. Kenapa sulit sekali mencari pemimpin yang berwibawa dan peka dengan rakyat? Semuanya cuma pintar ngeles. Sampai-sampai Pak Teguh Juwarno dari Komisi II DPR menyebut Fauzi Bowo sebagai ‘Ahlinya Jago Mengelak’.
Saya jadi bingung, sesuatu apakah yang bisa diingat dari Bang Foke selain kumisnya yang hitam? Kumis yang dulu pernah dijadikan alat kampanye, di mana para pemilih dihimbau untuk mencoblos calon yang ada kumisnye.





Wah parah banget
Tapi selama 7 tahun di jakarta, aku gak pernah menglaami banjir yang lebih dari selutut deh…
apa karena saya jarang keluar rumah ya…
Benar-benar ahli ngeles.
@om ahsan
om ahsan di jakarta bagian mana ya? kalau banjir di tempat saya (rawaselatan) juga jarang, krn daerahnya agak tinggi dan drainase baik. tapi kalau di jalan2 protokol, kelapa gading, asal hujan deras pasti banjir.
@om dewo
tapi om ngga milih calon yang berkumis pas pilkada kemarin khan? he he he
Saya rasa solusinya gampang. Kalo misalnya ngaku bisa ngatasi banjir ya syarat jadi gubernur mau bertempat tinggal di daerah banjir…Kalo misalnya ngaku PLTN aman ya menteri tinggal saja di sebelah PLTN…Jadi konsekuen gitu lho. Bukan rakyat kebanjiran pejabat enak enakan. Gara-gara saya milih SBY, saya diledek Parhobass, lha itu kan konsekuensi anda ngamuk2 karena anda milih dia . Sejak awal saya gak milih dia.
Begitu katanya .
Lha sekarang yang milih Saudara Fauzi Bowo itu kan juga terkena imbas pilihannya sendiri. Hi Hi Hi … Jadi yah Menyesal nyesal dikit ya gak papa ^_^
Bro,…
Jadi sebenarnya, dengan berkata begitu, foke meng-anggap,.. jutaan penduduk DKI adalah orang TOLOL semua.
Kita bikin saja website khusus untuk foke :
http://www.JOKEforJAKARTA.com
Bagaimana,…..?
Setuju…..?
Saya heran orang tolol bisa jadi gubernur… hanya di indonesia..
Pingback: Kendaraan 24 jam « rod-tobing weblog™