Tinggalkan kebiasaan telat

Ini adalah hal yang sering kualami sehari-hari.  Dalam berbagai pertemuan atau acara, mulainya acara tsb sering telat beberapa menit dari waktu yang sudah ditentukan. Misalnya, acara dijadwalkan mulai pukul 09.00, tapi tunggu punya tunggu, ternyata baru dimulai pukul 09.30 bahkan 10.00. Alasannya, banyak peserta yang belum datang. Atau peralatan pendukung (acara) yang belum siap, perlu check sound dan segala macam. Hal semacam ini juga kerap terjadi kalau aku membuat (atau disuruh menghadiri) janji-temu dengan beberapa orang, mereka sering datangnya telat padahal aku sudah bersusah payah datang tepat waktu. Terkadang aku malah datang beberapa menit sebelum dijadwalkan bertemu, untuk mengantisipasi hal-hal yang bisa menghambat kedatangan. Tapi, tokh, tetap saja harus menunggu rekan yang datangnya telat dari waktu yang dijadwalkan. Alasannya kadang-kadang sepele, misalnya telat bangun, lupa kalau ada acara, macet di lampu merah dll. Mengesalkan, bukan?

Kebiasaan tidak tepat waktu alias telat, jelas membuat banyak kerugian. Yang pertama, jadwal yang sudah kita susun rapi untuk seharian penuh menjadi berantakan. Apalagi buat orang yang sibuk, waktu semenit akan terasa sangat berharga. Sayang khan kalau waktu terbuang sia-sia hanya untuk menunggu orang/acara yang terlambat? Selain itu, karena telat kita bisa kehilangan banyak rezeki dan kesempatan. Apalagi kalau kita sedang janjian dengan orang yang ‘supersibuk’ dan nggak punya banyak waktu. Kalau kita datang  terlambat, siap-siap kehilangan peluang berharga, bahkan kredibilitas diri kita menjadi turun di mata orang tsb.

Kebiasaan telat, secara emosional, juga merupakan bentuk sifat ‘tidak-menghargai’ orang lain. Sedari awal sudah disepakati akan bertemu jam sekian, di tempat tertentu. Kalau kita datang terlambat maka akan membuat orang lain menunggu, hingga bosan. Lain halnya kalau kita tepat waktu, maka kita telah menunjukkan bahwa kita menghargai orang tsb sekaligus membangun persepsi dan citra positif kalau kita adalah orang yang serius dan tidak main-main. Ini akan sangat bermanfaat, terutama dalam memberi kesan pertama penilaian orang lain terhadap diri kita.

Dalam beberapa kali undangan pertemuan,  budaya telat ini sering diantisipasi dengan cara memajukan jam pada saat diberitahukan. Maksudnya begini, jika misalnya direncanakan bertemu jam 09.00, maka di undangan/pemberitahuan akan ditulis jam 08.30. Sehingga selisih 30 menit dipakai untuk mengantisipasi kalau-kalau ada yang datangnya telat. Sesekali taktik ini ampuh, orang akan datang pukul 08.50 sehingga acara bisa mulai tepat waktu. Tapi,.. masih ada juga yang membandel datang di atas jam 9.

Mari kita contoh bangsa Jepang. Jepang adalah salah satu dari segelintir negara Asia yang sanggup menyaingi Amerika dan Eropa, baik dari segi ekonomi, pendidikan, budaya dll. Mengapa? Salah satu alasannya karena masyarakat Jepang sangat menghargai waktu dan kesempatan. Dalam bekerja, belajar, hingga menghadiri pertemuan, mereka senantiasa tepat waktu. Tepat waktu untuk mulai dan tepat waktu pula untuk berakhir. Mereka akan datang sebelum acara dimulai, dan tidak akan beranjak sebelum acara benar-benar berakhir. Waktu yang ada digunakan seefektif mungkin. (Sangat berkebalikan dengan orang Indonesia, yang datangnya telat namun justru berlomba ingin pulang duluan). Dengan memelihara budaya tepat waktu, orang Jepang jadi lebih produktif bekerja dan meraih banyak kesempatan.

Jangan sampai waktu terbuang percuma

Nah, bagaimana dengan kita? Cukuplah sudah buat kita yang memelihara budaya telat, yang bagi beberapa orang hampir ‘mendarah-daging’. Lebih baik kita tinggalkan itu dan berubah menjadi pribadi yang disiplin; tepat waktu dan efektif dalam menggunakannya. Jangan sampai kita kehilangan banyak kesempatan hanya karena terlambat. Orang-orang seperti itu hanya akan selalu merugi jika dibandingkan orang yang senantiasa tepat waktu.

7 thoughts on “Tinggalkan kebiasaan telat

  1. Kecuali kalau pada mau gajian baru pada datang tepat waktu! :lol: :lol:

    Tapi, believe it or not, banyak orang yang datang tepat waktu tapi tetap tidak produktif entah karena satu hal dan lainnya. Sampai di kantor tetap aja yang dikerjakannya berleha-leha malah ada juga yang tidur-tiduran (kayak anggota DPR aja!)! Kalau sudah begitu, ya sama aja oblong! :mrgreen:

    Tapi, betul kata anda, bagaimanapun juga ketepatan waktu tetap harus dihargai. Walaupun begitu ketepatan waktu bukan elemen tunggal dalam menentukan keberhasilan produktivitas kerja. Saya juga sering menemukan bahwa orang yang relatif sering telat, tapi dia kalau sudah bekerja lebih rajin dan yang penting juga lebih bertanggungjawab. Namun, pada dasarnya setiap elemen yang menentukan produktivitas kerja (termasuk ketepatan waktu) harus tetap dihargai agar produktivitas bisa maksimal….

  2. @om Yari NK
    setuju,… tepat waktu saja tidak cukup, tapi juga rajin, semangat kerja. intinya harus punya komitmen dalam diri, ingin menjadi yang terbaik dan memberikan semaksimal mungkin.
    kalau saja semua orang di republik ini punya jiwa seperti itu, mulai dari anggota DPR hingga sopir metromini yang suka ngetem :mrgreen: wah saya yakin negara kita bisa maju om!

  3. budaya bunuh dirinya Jepang perlu ditiru juga gak ? kayaknya satu paket tuh…

    Menurutmu kondisi psikologis ala Jepang itu memang bisa diambil positipnya saja, atau secara sosiologis endingnya ya satu paket. Semakin maju, semakin harus gerak cepat, lha eksesnya bunuh diri ya meningkat…Ada pendapat ?

    Salam Pak Dokter…

    See You…

  4. Pingback: Pusing macet di Jakarta… « rod-tobing weblog™

  5. Pingback: Award Blog: Truly Blogger from Indonesia | ♫ E • S • D ⚡

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s