Ada yang bilang bahwa bangsa Indonesia dijajah bukan selama 350 tahun. Menurutnya yang benar adalah 415 tahun. Alias tiga setengah abad di tangan bangsa asing, ditambah 65 tahun setelah ‘kemerdekaan’. Klop. Jadi kita belum merdeka.
Menjelang hari jadi negeri yang ke-65 ini, rakyat dihadapkan pada kenyataan pahit. Ternyata kita belum sepenuhnya lepas dari penjajahan. Hingga hari ini negeri ini masih dijajah. Bukan oleh kaum kolonial, melainkan oleh putra bangsa ini sendiri. Ya.
Ternyata masih ada orang yang belum merdeka, baik secara fisik maupun pikiran. Masih ada orang berjiwa diktator yang menindas kaumnya sendiri. Jumlahnya sangat banyak. Mereka masih belum mengerti mengapa Tuhan sudah begitu baik memberikan kemerdekaan. Dengan sukarela, mereka memberikan dirinya untuk diperhamba oleh keinginan dan kekuasaan.
Tidak perlulah aku bercerita panjang lebar tentang ‘siapa’ mereka ini. Kenyataan tentang mereka-mereka bisa kita temui dengan mudah. Cukup buka mata dan sendengkan telinga, kita segera tahu bahwa negeri ini isinya cuma ironi…
“Ada banyak orang di luar sana yang bekerja siang malam demi bertahan hidup, memeras keringat demi keluarga… tetapi para pembesar justru dengan entengnya menghamburkan duit rakyat untuk kepentingan pribadi. Yang menyedihkan lagi, mereka bangga dgn hal itu…”
“Hukum pun berupaya untuk ditegakkan, untuk melindungi kebenaran… tetapi pamong rakyat justru rela merendahkan harga diri jabatannya demi selembar rupiah. Mereka bukan lagi berdiri di atas kebenaran sejati, melainkan diperbudak oleh yang punya uang. Ibarat kerbau dicucuk hidungnya.”
“Tentu saja rakyat kecil sengsara ditindas oleh hukum. Hukum yang semestinya membela mereka dari kezaliman penguasa.”
“Di bidang lain, ada orang yang ingin menyembah Tuhan, tetapi alangkah lucunya ia harus minta izin dulu kepada ciptaan Tuhan yang lain..“
Dan masih banyak lagi. Terlalu banyak untuk disebutkan.
Ah sudahlah
Selamat hari jadi yang ke-65

Iya bener.
Marilah kita merdekakan diri kita terlebih dahulu.