Mereka ini termasuk golongan orang-orang bernyali besar. Saking bernyalinya, mereka berani gelantungan di pintu kereta yang sedang melaju kencang (tanpa takut tersambar kereta dari arah berlawanan), duduk di sambungan gerbong bahkan naik-naik ke atap. Padahal sangat rentan risikonya untuk terpelanting jatuh, menghantam rel lalu dihajar kereta lain. Semua ini nekat mereka lakoni asal bisa pulang atau pergi ke tempat kerja. Mereka seperti sudah rela dan mengorbankan keselamatan dirinya.
Herannya, buat mereka yang duduk manis di atap gerbong, mereka bisa berkali-kali tiba dengan sukses di tujuan padahal setahuku ada beberapa titik berbahaya seperti terowongan Cawang (gelap dan rendah) atau jalur-jalur tertentu di mana kereta melaju kencang sehingga hempasan angin sangat keras.
Dan lagi, di setiap stasiun ada petugas keamanan kereta. Juga ada masinis dan asistennya yang berwenang untuk menegur orang-orang nekat seperti ini. Tapi, kok mereka masih bisa naik ke atap atau duduk di sambungan rel? Tanya kenapa?
(Foto diambil di stasiun kereta UI Depok, jurusan Jakartakota-Bogor. Tentu saja aku tidak ikut duduk di atap)


mungkin karena sudah menjadi tradisi setiap tahunnya…jd para petugas tsb pun maklum hehehe….
tp sebaiknya semua kelas kereta baik yg bisnis, eksekutif maupun ekonomi seharusnya dibaerlakukan peraturan g sama tidak ada diferensiasi sehingga terkesan kereta kelas bisnis sama eksekutif bt kalangan orang2 atas sehingga pelayanan dan kenyamanannya pun berbeda dari yg kelas ekonomi….
Pingback: Tepat sasaran? | rod-tobing weblog™