Pernah tahu bagaimana rasanya naik kendaraan ugal-ugalan melawan arah lalu lintas di jalan raya? Ngebut di gang kecil namun kecepatannya seperti di jalan tol? Hingga balapan dengan kendaraan sejenis dengan selisih jarak kurang dari semeter? Kalau belum, menurutku kalian harus mencoba naik kendaraan yang satu ini…
Ya, angkot. Bukan sembarang angkot melainkan angkot yang ada di kota Medan. Sebagai warga Medan yang selalu setia menggunakan transportasi umum, aku paham betul bagaimana rasanya harus uji nyali setiap kali menumpang kendaraan ini. Benar-benar berbahaya dan di luar dugaan.
Seperti di kota-kota lain, angkot sebenarnya merupakan bagian yang tak terpisahkan dari kehidupan masyarakat di Medan. Banyak orang dan tempat dihubungkan dengan moda transportasi yang murah-meriah ini. Kegiatan masyarakat disokong oleh transportasi ini. Namun sayangnya tingginya manfaat tersebut tidak diimbangi dengan perilaku berlalu lintas yang terpuji; mobil-mobil ‘malang’ ini justru dikendalikan oleh para sopir yang rada-rada ekstrem dalam mengemudi. Yang kumaksud dengan ekstrem di sini bukan cuma sekedar kecepatan tinggi, melainkan hampir membahayakan nyawa seisi umat pengguna jalan raya di sekitarnya.
Mungkin karena jumlah angkot ini sudah kebanyakan (dibanding jumlah penumpang hariannya), nggak heran setiap sopir akan selalu saling berlomba mencari sewa (*penumpang). Tidak peduli jalan besar atau jalan kecil, apabila ada dua angkot yang bersebelahan/beriringan, maka siap-siaplah menyaksikan cuplikan adegan The Fast and The Furious di jalan raya. Mereka akan saling kebut-kebutan, saling mendahului dalam mencari penumpang. Nggak tanggung-tanggung, kecepatannya bisa sampai 6o-70 km/jam di jalan yang lebarnya cuma dua jalur (bolak-balik), bahkan masuk ke jalur yang berlawanan untuk mendahului saingannya (alias: berjalan ngebut di sebelah kanan). Jarak antar mobil bisa kurang dari semeter! Apabila dalam aksinya tersebut sang sopir melihat ada penumpang yang hendak naik (atau ada yang mau turun), maka mereka akan berhenti mendadak tanpa melihat kaca spion terlebih dahulu. Yang penting dapat duit! Kebiasaan yang berbahaya ini selalu berulang, nggak heran setiap hari ada saja kejadian tabrakan dan kecelakaan, baik antara sesama angkot, maupun angkot dengan kendaraan lain. Anda penumpang yang berada di dalam kendaraan, bersiap-siaplah mengikuti uji nyali. Dan buat yang sedang berkendara di sekitar angkot, lebih baik menjauh demi keselamatan nyawa(mu). Orang waras kan selalu mengalah, bung!
Selain ugal-ugalan, kendaraan ini juga sering menyerobot jalan orang lain. Bahkan pernah hingga naik ke trotar yang semestinya tempat pejalan kaki. Alkisah angkot tersebut ingin belok kiri di persimpangan lampu merah (*peraturannya belok kiri boleh jalan terus), namun karena terhalang oleh kendaraan lain dan menyisakan celah hanya sekitar 0,5 meter untuk lewat, maka separuh kiri angkot tersebut memanjat trotoar setinggi agar bisa lewat. Mirip-mirip aksi off-road dengan mobil 4×4. Berbahaya memang, apalagi buat pejalan kaki yang kebetulan lewat.
Di persimpangan, kendaraan ini juga terkenal kurang disiplin. Kebetulan kebanyakan persimpangan lampu merah di Medan menggunakan timer yang memungkinkan para pengendara menghitung lamanya lampu merah dan hijau. Apabila angkot ini sedang melaju kencang menuju perempatan, di mana timer menujukkan lampu hijau tinggal tersisa 1 detik lagi, maka mereka akan memaksakan kendaraannya untuk menerobos perempatan tidak peduli akan ada kendaraan yang datang dari arah berlawanan. Atau sebaliknya, setelah antri sekian lama di lampu merah, begitu berganti lampu hijau mereka akan membunyikan klakson sekeras-kerasnya untuk menyuruh kendaraan lain minggir (padahal lagi sama-sama antri lho).
Dari segi keamanan berkendara dan menumpang, bagian dalam angkot juga rada-rada berbahaya. Tidak ada sabuk pengaman untuk yang duduk di depan. Tidak ada pegangan untuk yang duduk di dekat pintu masuk. Malahan, beberapa angkot meletakkan tangki bensinnya di depan (di samping sopir). Hal ini banyak terdapat pada angkot tua (jenis hijet), di mana bensin disimpan dalam jerigen di kabin depan lalu dialirkan menggunakan selang tipis ke mesin. Seakan dianggap kurang berbahaya, si sopir merokok pula sambil menyetir. Hanya tinggal tunggu nasib, percikan abu rokoknya akan masuk menyelusup ke dalam jerigen bensin. Dan angkot tersebut akan berubah menjadi bom raksasa.
Perilaku verbal para sopir juga banyak yang tidak terpuji. Tidak semua sopir, memang, namun kebanyakan mereka sering mengeluarkan makian/perkataan yang tidak pantas didengar jika dalam kondisi tertekan (misalnya: lampu merah yang tak kunjung berganti, atau kemacetan, atau uang setoran yang belum terkumpul). Anda yang baru pertama kali pasti terkejut mendengarnya. Siap-siap saja menerima mendengar makian cabul atau bernada merendahkan lainnya dari mulut mereka.
…
Aku jadi teringat akan sebuah humor tentang sopir angkot yang ugal-ugalan. Dikisahkan sopir angkot tersebut menghadap malaikat pada hari kematiannya. Ketika ditanya oleh malaikat, apakah mau masuk surga atau neraka, dengan entengnya sopir tersebut menjawab ingin masuk surga. Alasannya, selama ia mengemudi, para penumpangnya jadi banyak yang taat dan berdoa kepada Tuhan (minta diberi keselamatan selama perjalanan).

ahaha di bandung sama aja, apalagi banyak supir angkot dari medan
wah, sangat berbahaya tuh gan…ckckck…
tp lumayan jd bs memacu adrenalin hihihi…
ha ha aha aha aktivitas angkot medan, teringat waktu masih ngekos disana, apalagi dulu q kemana angkot2 lagi2, jadi teringat semwa dan yang ditulis ama siagan ini memang benar dan tepat sekali. . . .
ha ha aha aha aha ahah a. ……..
medan . .. medan. . . . lo to ye. . . .