Teladan yang berharga

Kemarin aku sedang membeli martabak di salah satu pedagang langgananku di dekat rumah. Biasanya aku memesan martabak kacang, walaupun ia juga menjual martabak jenis lain seperti martabak telor atau martabak duren. Dalam proses pembuatannya ia menggunakan berbagai jenis bahan yang berkualitas untuk menghasilkan martabak andalannya. Dan setelah aku memesan martabak kesukaanku, aku pun duduk menunggu di sampingnya. Memperhatikan kemahirannya dalam meracik bahan-bahan menjadi adonan

Di tengah-tengah kesibukan ia meracik martabak, tiba-tiba datanglah dua orang anak kecil mendekat kepadanya. Satunya bocah lelaki, mungkin berumur lima atau enam tahun, dan satunya lagi perempuan yang lebih kecil dari bocah yang laki. Kuperhatikan mereka dari atas sampai ke bawah… mereka terlihat kumuh, tidak beralas kaki, kelihatan tidak begitu sehat serta agak kotor. Aku pun bingung, apa gerangan sebab mereka merapat ke tukang martabak ini? Mungkinkah mereka juga hendak memesan martabak seperti yang kulakukan? Rasa-rasanya tidak mungkin…

Tidak, mereka tidak sedang membeli martabak. Mereka justru mengeluarkan kantong plastik bening yang agak lusuh dari kantongnya dan memberikannya kepada si pedagang, seperti hendak meminta sesuatu diisikan ke dalamnya. Si pedagang terdiam sejenak, lalu mengambil kaleng minyak samin yang ada di sela-sela dagangannya. Ya, minyak samin. Minyak mahal yang terbuat dari lemak hewan yang biasanya digunakan untuk masakan Timur Tengah dan Betawi. Minyak yang membuat masakan menjadi terasa gurih dan bercita rasa lemak yang khas.

Pedagang itu melihat isi kaleng minyak samin itu, lalu menuangkannya sampai habis ke dalam kantong plastik yang disodorkan oleh bocah-bocah itu. Kuperhatikan… ada setara dua-tiga cangkir minyak samin yang dituangkannya. Sebuah jumlah yang tidak kecil, apalagi melihat pekerjaannya sebagai pedagang martabak yang notabene membutuhkan minyak samin. Tapi pedagang tersebut tidak terlihat bersungut-sungut; ia bahkan tersenyum ketika kedua anak itu pergi sambil berucap terima kasih dengan suara bocah  dan dalam keriangan mereka akan sesuatu berharga yang baru saja mereka peroleh. Mungkin bagi si pedagang martabak mensedekahkan minyak samin dalam jumlah sebegitu tidak akan mengganggu usahanya, namun bagi kedua anak tersebut mereka ibarat memperoleh berkat yang melimpah sangat. Bagi mereka, minyak samin dalam jumlah segitu sudah cukup untuk membantu mengurangi beban ekonomi keluarga mereka dalam memenuhi kebutuhan pokok, salah satunya adalah minyak goreng. Alangkah sukacitanya keluarga anak itu menerima pemberian tersebut…

Lalu, bagaimana denganku? Dengan begitu banyaknya berkat yang melimpah dalam hidupku, apakah alasanku untuk menahannya dari memberikan kepada mereka yang sangat-sangat membutuhkannya?

4 thoughts on “Teladan yang berharga

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s