Praktek di ruang anatomi

Setiap berkenalan dengan orang baru, katakanlah teman atau saudara jauh, aku sering ditanyai pertanyaan seperti ini: “sudah kuliah di mana, semester berapa, ambil jurusan apa, dsb…?”. Pertanyaan seperti ini menurutku masih mudah untuk kujawab (“jadi, aku kuliah di fakultas kedokteran, semester X di universitas Y”). Mendengar jawaban seperti itu, besar kemungkinan pertanyaannya akan berlanjut lagi menjadi seperti ini: “Oh, jadi mahasiswa kesehatan ya? Udah pernah pegang mayat belum ?” Atau “Udah pernah bedah perut orang belum? “Atau malah yang lebih ekstrem lagi: “Seram nggak waktu praktek pakai mayat? Apa mayatnya bisa bergerak-gerak ya?” Hahaha…kalau sudah begini aku cuma bisa nyengir-nyengir kuda  :mrgreen:

Lengan tampak ventral (diambil dari Atlas Anatomi Yokochi)

Setiap mahasiswa medis (kedokteran, keperawatan, dll) pastilah pernah melakukan yang namanya praktek anatomi. Tujuan dari praktek ini adalah untuk mengenali dan mengidentifikasi struktur/bangunan yang menyusun tubuh manusia, mulai dari ujung kepala sampai ujung kaki, dari yang paling luar sampai yang paling dalam. Pokoknya semua dipelajari secara menyeluruh. Praktek anatomi ini biasanya terintegrasi dengan praktek lain seperti praktek fisiologi (fungsi-fungsi pada tubuh manusia), praktek histologi (melihat sel di bawah mikroskop), praktek patologi (melihat proses penyakit secara makro dan mikro) dan lain-lain. Kalau suatu saat mau bekerja di bidang medis yang berhubungan dengan manusia maka pertama-tama tentu harus berkenalan dulu dengan tubuh manusia itu sendiri, luar dan dalam.

Namanya praktek anatomi, maka membutuhkan bahan praktek yang bisa di-explore sejauh mungkin. Bahannya yaitu, tubuh manusia asli. Tubuh yang sudah mati tepatnya (kalau masih hidup, gawat namanya :-D ). Orang awam sering beranggapan bahan percobaan yang digunakan adalah jenazah. Hal ini tidak sepenuhnya benar, karena kami menggunakan cadaver bukan jenazah. Perbedaan cadaver dengan jenazah adalah: jenazah merupakan tubuh segar yang baru meninggal, sedangkan cadaver merupakan awetan kering yang sudah lama usianya, bisa hingga belasan tahun sampai lapuk (lihat gambar di atas, kira-kira seperti itulah cadaver manusia). Jadi tidak ‘seseram’ yang dibayangkan. No blood, no human fluid, and no bad smell (tidak busuk, yang ada malah bau formalin/alkohol). Sebelum mengikuti praktek, kami biasanya belajar terlebih dahulu menggunakan atlas anatomi. Dengan bantuan atlas dapat dibayangkan bagaimana susunan-susunan yang hendak dicari sehingga pada saat praktek akan menjadi lebih gampang.

Ada beberapa aturan tidak tertulis namun wajib hukumnya dipatuhi selama praktek di ruang anatomi, yang ditujukan demi kelancaran semua umat. Aturan-aturan tersebut antara lain: setiap orang yang berada di ruang anatomi wajiblah menghormati sediaan anatomi (maksudnya ya cadaver-cadaver itu), dilarang bermain-main dengan sediaan anatomi, serta dilarang mendokumentasikan (membuat foto) sediaan anatomi. Semua orang juga harus bekerja tepat waktu, efisien, dan serius. Setiap pelanggaran akan dikenai sanksi hingga dikeluarkan dari ruangan praktek.

Umumnya pada saat praktek, cadaver yang telah dipersiapkan tidak lagi dalam kondisi utuh dari ujung kepala sampai kaki seperti pada waktu hidup, melainkan sudah diuraikan menjadi beberapa sediaan yang lebih kecil. Tujuannya agar mempermudah dalam mempelajari bagian-bagian tertentu seperti organ dalam, dan mempermudah jika hendak dipindah-pindahkan dari satu meja ke meja yang lain. Kami sering bekerja dalam group sehingga bisa bersama-sama meng-explore sediaan. Kami juga sering menggunakan bantuan atlas anatomi untuk menuntun dalam mengidentifikasi organ-organ yang dicari. Sebagai contoh: pada sepotong tulang biasanya terdapat beberapa penonjolan (processus, condylus), celah (sulcus, incissura), ceruk (fossa) hingga sudut (angulus). Kalau mau yang lebih rumit lagi ada pada organ otak: ada cerebrum, cerebellum, dan batang otak. Setiap bagian terdiri atas beragam penonjolan dan lekukan yang rumit, yang dinamai dalam bahasa Latin.

Biasanya orang yang baru pertama kali masuk praktek ke ruang anatomi mungkin akan merasa gentar dan tidak tahan, terutama karena bau formalin yang menyengat dan pedih di mata. Tetapi kalau sudah terbiasa maka akan menjadi mahir, seperti yang terlihat di video di bawah ini.

Jadi, kesimpulannya dalam praktek anatomi tidak ada hal yang istimewa. Tidak ada yang kesan seram seperti yang sering disangkakan orang. Apalagi  kejadian-kejadian ghaib mistis aneh, nggak ada itu. Yang ada justru semangat belajar yang terus membara dalam diri setiap mahasiswa peserta praktek. Serta sedikit jiwa psikopat ambisi untuk mengobok-obok cadaver demi nilai ujian yang mantap :mrgreen:

Baca juga: Tragedi Burke dan Hare, potret suram dunia anatomi

Dan beberapa tulisaku tentang anatomi:

Anatomi sistem rangka

Anatomi ginjal dan saluran kemih

Anatomi sistem pembuluh darah

7 thoughts on “Praktek di ruang anatomi

  1. Hmmm… yang di video itu seperti ayam goreng :D
    Jadi, begitu ya yang kami sangka selama ini sebagai orang awam ya seperti yang digambarkan di paragraf-paragraf awal tadi. Ternyata bagi yang mendalami ilmunya biasa saja ya.
    Syukurlah sempat membuka blog ini. Blog yang berbeda genre dengan yang aku punya. Jadi punya wawasan tentang ilmu di luar bidangku. Terima kasih.
    :) Salam,

    Mochammad
    http://mochammad4s.wordpress.com/
    http://notulabahasa.com/

  2. Pingback: Belajar ilmu reproduksi « rod-tobing weblog™

  3. Pingback: Horor destruktif « rod-tobing weblog™

  4. Pingback: Yang Mati Yang Berjasa « rod-tobing weblog™

  5. Pingback: Takut yang Positif « rod-tobing weblog™

  6. Pingback: Ngeblog, Buat Apa dan Siapa? « rod-tobing weblog™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s