Menekuni hobi sebagai profesi

Kadang-kadang aku suka mikir begini… alangkah enaknya kalau kita punya profesi (pekerjaan) yang sesuai dengan bakat kita, atau bahkan merupakan hobi kita sendiri. Misalnya kita senang memelihara ikan, kemudian kita kuliah di jurusan Ilmu Peternakan dan berkonsentrasi untuk pembudidayaan dan akhirnya menjadi seorang supplier, katakanlah supplier lele dumbo yang sukses ke seluruh negeri. Ya, jadinya kita memperoleh uang dari hobi yang kita senangi. Bisa dibayangkan kalau seandainya kita menekuni sesuatu yang merupakan kesenangan kita, kita akan menjadi seorang yang expert di bidang tersebut. Selain menjalankan hobi, juga dapat menghasilkan uang. Menurutku sungguh bahagia orang seperti itu. Ibarat peribahasa: sekali mendayung dua puluh tiga pulau terlampaui… ups! :-D

Mungkin ada di antara kita yang saat ini merasa seperti berada di tempat  yang salah atau menekuni bidang yang kurang sesuai dengan keinginan kita.Misalnya A memiliki bakat di bidang teknisi radio… eh ternyata dapat pekerjaan jadi salesman produk obat. Jadinya rada-rada ga nyambung. Aku sendiri pun terkadang merasa seperti itu. (Dulu aku sangat menyukai ilmu pasti dan teknik, serta bercita-cita untuk menjadi seorang insinyur… namun karena satu dan lain hal, akhirnya “cuma” keterima di pendidikan ilmu kedokteran yang mana lebih menonjolkan aspek humaniora-sosial-hafalan ketimbang ilmu pasti). Akibatnya harus ada perjuangan “ekstra” yang dikeluarkan untuk berusaha “menyukai” bidang yang sebenarnya bukan bidang kita. Syukur-syukur kalau bisa bertahan atau bahkan jadi menggemari bidang tsb… nah kalau yang terjadi sebaliknya (tidak lolos “seleksi alam”) bagaimana? Mungkin orangnya bisa jadi stress dan ga karu-karuan. Hasil kerjaannya jadi ngga kualitet. Seperti misalnya anak-anak muda yang sebenarnya tidak bakat main musik, bakatnya di bidang lain tapi tetap ngotot kepingin jadi anak band (mungkin biar keren), nah loh jadinya musik yang mereka hasilkan kualitasnya jauh di bawah standar telinga para pendengar. Begitu kira-kira :-D

Aku sering kagum melihat orang-orang hebat di berbagai bidang tertentu. Banyak di antara mereka ternyata sudah menggemari bidang tersebut semenjak masih kecil, mencurahkan perhatian penuh ke dalamnya, mengembangkan dan akhirnya berhasil menjadi seorang yang hebat lagi berbakat. Sebut saja Warren Buffet, orang terkaya nomor dua versi majalah Forbes tahun 2005. Buffet semenjak masa kanak-kanak sudah menunjukkan bakatnya dalam berbisnis; ia menjual koran, permen karet dan bola golf saat masih kecil dan memutar keuntungan yang diperoleh, serta bermain saham dengan modal sedikit demi sedikit.  Atau Mark Zuckerberg, sang pendiri sekaligus CEO Facebook saat ini. Zuckerberg, yang dicatat sebagai miliarder termuda versi majalah Forbes, telah mencurahkan banyak waktunya di bidang ilmu programming dan sukses mengembangkan Facebook pada tahun 2004. Serta masih banyak lagi orang-orang sukses yang berawal dari kegemaran mereka akan sesuatu.

Mark Zuckerberg, pendiri sekaligus CEO Facebook

Memang ya, terkadang aku sering  merasakan seperti “keinginan yang nggak kesampaian”. Apalagi kalau melihat orang-orang yang menggeluti bidang yang kuinginkan sejak dulu dengan penuh nikmat. Yah… tetapi aku bisa mengerti, bahwasanya jalan hidup kita tidak harus sama persis seperti yang kita inginkan. Perlu ada perubahan-perubahan, tekanan dan terkadang sedikit kemudahan. Ibaratnya besi, kita harus dibentuk walau rada-rada menyakitkan. Tujuannya bukan untuk dibikin peot apalagi jadi rongsokan, melainkan agar menjadi sesatu yang kelak bermanfaat bagi orang banyak. Besi tadi mungkin bisa dibuat menjadi kaleng buat nampung aer hujan :-D Sebab kita tidak pernah tahu apa yang terjadi di masa yang akan datang. Jadi, ya jalani saja asalkan baik.

Nah, seorang temanku pernah berkata seperti:

“Kita harus bersyukur kalau ditempatkan pada profesi yang tidak sesuai dengan bakat kita sehari-hari. Dengan demikian, setelah bekerja kita bisa menjalankan hobi kita hanya untuk kesenangan pribadi. Orang yang seperti itu tidak kalah berbahagianya dengan orang yang menjadikan hobinya sebagai profesi. Di dunia ini tidak ada sesuatu yang sia-sia, asalkan semua pada tempatnya, kawan…”

4 thoughts on “Menekuni hobi sebagai profesi

  1. Pingback: Tertarik jadi pilot « rod-tobing weblog™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s