Judul buku : Lagak Jakarta 100 ‘Tokoh’ yang mewarnai Jakarta
Pengarang : Benny Rachmadi, Muhammad Misrad
Jumlah halaman : 160
Penerbit : KPG (Kepustakaan Populer Gramedia)
Buku Lagak Jakarta 100 ‘Tokoh’ yang mewarnai Jakarta merupakan salah satu dari seri komik ‘Lagak Jakarta’. Dua karakter utamanya, yaitu Benny dan Mice, mewakili sosok orang Jakarta pinggiran kebanyakan dengan segala kesehariannya dalam tingkah laku yang kocak sekaligus kritis. Ulah mereka selalu memancing tawa, namun di sisi lain juga terkadang merupakan kritik sosial bagi masyarakat.Kedua karakter tersebut juga digambarkan secara komunikatif dengan pembaca. Selain di seri Lagak Jakarta, karakter Benny dan Mice dapat ditemui di Harian Kompas terbitan Minggu.
Pada komik Lagak Jakarta 100 ‘Tokoh’ yang mewarnai Jakarta, kedua pengarang yaitu Benny Rachmadi (Benny) dan Muhammad Misrad (Mice) mencoba untuk menggambarkan (atau lebih tepatnya, mengkartunkan) sosok-sosok yang banyak terdapat di Jakarta dan identik dengan streotipe masyarakat Jakarta, mulai dari kaum ‘atas’ hingga kaum marjinal. Setiap tokoh digambarkan secara menggelitik tanpa kehilangan identitasnya. Selain itu, kedua komikus juga menambahkan teks-teks dan dialog kocak yang bisa memancing tawa dan detil-detil unik yang menjadi ciri khas masing-masing tokoh.
Beragam tokoh dijabarkan di sini, mulai dari bocah ‘Ojek Payung’ yang basah
kuyup (padahal punya payung!) sambil menjajakan jasanya, ‘Anak Gaul menengah agak ke bawah’ dengan celana hypster-kaus junkies dan rambut alaynya, hingga ‘Pedagang Kerak Telor’ dengan pernak-pernik dagangannya mulai dari telor ayam hingga bubuk kelapa goreng. Selain itu ada juga ‘Oknum Pegawai Negeri’ yang kerjanya cuma baca koran sambil memimpikan kenaikan pangkat, hingga ‘Banci Taman Lawang’ yang beroperasi di malam hari dengan penampilan menggoda. Bahkan karakter nyeleneh seperti ‘Fetishis’ (maling pakaian dalam) dan ‘Eksibisionis’ (hmm..cari tahu sendiri artinya di buku ini) juga digambarkan sebagai tokoh Jakarta. Semuanya dikemas dalam kartun yang unik dan komunikatif dengan pembaca.
Bagi yang menyimaknya secara seksama, komik ini bukan sekedar komik biasa (yang hanya untuk lucu-lucuan) melainkan terdapat pesan-pesan yang sepertinya ingin disampaikan sang pengarang/komikus kepada pembaca. Pesan tersebut dapat berupa kritikan atau sindiran halus yang diperlihatkan melalui beberapa detil pada karakter yang ada di komik ini.
Sebagai contoh pada halaman 111 yang berjudul ‘Anggota Dewan yang
Terhormat’. Jika diperhatikan, terlihat sosok anggota dewan yang dalam anggapan masyarakat sering merupakan sosok ‘wakil rakyat namun tidak mewakili rakyat’. Lihat saja, sang ‘wakil rakyat’ yang bersetelan mahal duduk dengan PW (‘Posisi Weenak…’) sambil terkantuk-kantuk, sesekali interupsi (hanya agar dibilang vokal), dan di depannya ada laptop canggih nan mahal yang dibeli dari uang rakyat namun hanya digunakan untuk main solitaire. Tampak pengarang ingin mengkritik kebiasaan anggota dewan yang kurang baik tersebut.
Lihat juga hal 49 mengenai ‘Pengemis Lampu Merah’. Di sini digambarkan
seorang wanita yang mengemis sambil membawa seorang anak sebagai properti standar agar orang lain menaruh iba (entah itu anaknya atau bukan). Yang menarik adalah pakaian (kaus) yang digunakan wanita tersebut merupakan pemberian salah satu partai semasa kampanye dulu. Sangat kontradiktif memang: janji kampanye untuk kesejahteraan rakyat dan kondisi si ibu yang meminta-minta di lampu merah.
Kelebihan lain dari komik ini adalah penggunaan brand (merk) tertentu secara terang-terangan. Ada payung bertuliskan Indosat, ada juga Nokia N73. Mungkin bagi sebagian orang hal ini sering dihindari, namun di komik ini brand-brand tersebut justru digunakan memperkuat karakter dan jalan cerita tanpa ada kesan merendahkan ataupun promosi brand-brand itu sendiri. Tampilnya brand tersebut merupakan identitas yang akan mempermudah dalam memahami karakter/jalan cerita.
Buku ini memang menyajikan dua hal sekaligus: humor dan sindiran. Sindiran yang tidak menyinggung siapapun, namun justru membuat orang terbahak-bahak. Tidak ada kesan menggurui, tapi setelah membaca buku ini justru akan membuka wawasan kita mengenai orang Jakarta sehari-hari dan karakter/stereotipnya. Dengan demikian buku ini layak untuk dijadikan koleksi (bersama seri Lagak Jakarta lainnya) dan juga untuk mengisi waktu di kala senggang. (Apalagi ada bonus poster di dalam buku ini
)

thanks banget udah ngebantuin pr gua