Sudah dua tahun belakangan ini (semenjak duduk di perguruan tinggi) ada banyak kebiasaan saya yang berubah dibanding semasa duduk di bangku SMA . Salah satunya adalah kebiasaan belajar dan membaca. Beban kuliah yang semakin padat menuntut untuk banyak membaca dan menggali informasi. Apalagi bidang yang saya tekuni adalah bidang yang sarat informasi dan terus-menerus diperbaharui seiring waktu. Belum lagi kalau ada ujian. Kalau tidak banyak membaca, bisa-bisa ketinggalan
.Oleh karena itu, hampir setiap periode kuliah saya selalu mencari buku atau diktat untuk dipelajari. Terutama buku teks, karena merupakan sumber informasi tervalid setelah jurnal.
Dalam kebutuhan mencari buku teks, kadang saya dihadapkan pada dua pilihan: buku asli atau buku non-asli (buku bajakan, maksudnya
). Kenapa demikian? Karena terkadang idealisme tidak berbanding lurus dengan kondisi kantong. Maksudnya gini, idealisme sebagai mahasiswa untuk senantiasa menggunakan buku asli kadang berbenturan dengan harganya yang, bagi saya, kurang terjangkau dari segi ekonomi. Ya, memang ada beberapa buku teks asli (bisa terbitan luar negeri) yang harganya relatif lebih mahal dibandingkan dengan buku-buku lain pada umumnya. Mungkin bagi beberapa orang hal ini bukan masalah, namun bagi saya (dan beberapa orang yang senasib dengan saya
) ini merupakan suatu kendala yang cukup berarti. Padahal di dalam buku tersebut ada informasi yang benar-benar diperlukan.
Belakangan saya tahu, selain buku asli ternyata ada juga buku yang tidak asli. Alias buku bajakan. Yah, kira-kira semacam fotokopian buku asli tapi disampul dengan rapih. Tidak jarang orang terkecoh melihat penampilannya, menyangka itu adalah buku asli padahal bukan. Buku-buku semacam ini dijajakan dengan harga yang sangat murah, bisa ditawar, tidak jarang harganya kurang dari sepersepuluh harga buku asli. Mencarinya pun tidak sulit. Bagi yang tinggal di Medan bisa mencarinya di kawasan Titi Gantung, atau di kawasan Senen untuk di Jakarta Pusat. Soal kualitas, ya jangan dibandingkan dengan buku asli. Cetakan, kualitas kertas, hingga finishingnya rata-rata di bawah standar buku asli. Tidak heran terkadang ada tulisan yang kabur, atau gambar yang tidak jelas bentuknya, atau bahkan halaman yang sama sekali kosong pada buku bajakan, di mana pada buku asli semuanya jelas dan terang. Singkatnya, kualitasnya berbanding lurus dengan harganya.
Sesuai judul tulisan ini, saya sering mengalami dilema untuk membeli buku asli atau buku bajakan. Balik lagi ke atas, kondisi kantong sering menjadi pertimbangan utama. Ada keinginan untuk menyelamatkan keuangan dengan membeli buku bajakan, namun di sisi lain ada keinginan dan idealisme untuk menggunakan buku asli. Terkadang di halaman depan buku asli ada tulisan: “Pembajakan buku adalah kriminal! Anda jangan menggunakan buku bajakan, demi menghargai jerih payah para pengarang yang notabene adalah para guru.” Apalagi kalau buku yang dicari diterbitkan oleh institusi tempat saya belajar, nyali jadi makin ciut untuk menggunakan buku bajakan…
Mungkin pembaca juga mengalami hal yang sama seperti saya. Untuk itu, ada beberapa solusi yang bisa kita lakukan:
- Meminjam. Ini adalah solusi paling adil, karena dengan meminjam (buku asli, tentunya) maka tidak akan melanggar hukum dan sekaligus bisa menghemat keuangan. Meminjam bisa dari siapa saja, baik kakak kelas, teman, atau perpustakaan. Namun konsekuensinya jelas, buku tersebut tidak bisa dimiliki untuk selamanya (namanya juga minjam!). Tapi kalau diberikan (benar-benar dilepas) oleh sang empunya buku, ya lain lagi ceritanya
- Beli/pakai buku bekas. Buku bekas tidak sama dengan buku bajakan, di mana buku bekas adalah buku asli yang merupakan terbitan lama atau edisinya lebih jadul dibandingkan buku asli keluaran terbaru. Risikonya, informasi yang diperoleh bisa jadi sudah ketinggalan jaman/tidak up-to-date lagi. Tapi ini tergantung cabang ilmunya; ada beberapa ilmu yang selalu berkembang pesat mengikuti jaman, namun ada juga beberapa cabang ilmu/pengetahuan dasar yang sifatnya statis dan jarang berubah. Untuk yang terakhir ini, menggunakan buku bekas bisa menjadi pilihan yang cukup baik.
- Pakai ebook (kalau ada). Apa itu ebook? Ebook adalah buku dalam bentuk digital, bisa berformat .pdf atau .chm. Setahu saya ebook ini juga adalah barang (atau lebih tepatnya, materi) yang juga haram dibajak. Namun pesatnya teknologi saat ini memungkinkan untuk memperbanyak ebook tanpa batas. Selain itu, terkadang ebook hanya merupakan bonus dari pembelian buku asli, sehingga bukan sumber profit utama penerbit (walaupun ada juga ebook yang dijual secara khusus!).
- Nah kalau ketiga hal di atas tidak bisa/sulit untuk dilakukan, maka solusi terakhir yang paling mungkin adalah memfotokopi bagian tertentu dari buku asli, sesuai dengan yang dibutuhkan. Jangan difotokopi semuanya, karena sama saja dengan membajak. Untuk yang satu ini memang sering diperdebatkan, karena ada pendapat yang mengatakan bahwa memfotokopi satu halaman saja dari satu buku tebal sudah sama dengan membajak buku tersebut. Karena statusnya abu-abu, sebaiknya ini menjadi pilihan terakhir.
- Dll (biasanya tiap orang punya caranya masing-masing)..
Saya selalu mengupayakan untuk menggunakan buku asli, entah itu pinjam, bekas atau bahkan membeli (dengan susah payah
). Dengan menggunakan buku asli, selain mendapat kualitas yang terbaik juga luput dari perasaan bersalah telah menggunakan barang hasil kriminal. Ada perasaan bangga, apalagi kalau buku tersebut diterbitkan oleh institusi pendidikan tempat saya bernaung.
Pernah saya membeli buku bajakan, dan ini contoh halaman di dalamnya… begghh….kabur dan tak jelas, separuh halaman hilang…hehehe….

anda memang sangat idealis..Sip Markusip..
Kalau di medan, ada namanya titi-gantung. Buku Toefl yang 350rb-an aku beli seharga 50rb sudah termasuk Kasetnya. hehehehe.
tak sanggup beli mahal mahal lae, jadi untuk sementara menanggung dosalah menunggu kesuksesan menjemput.
@lae dinandjait
kalau di jakarta aku biasa beli (buku bajakan) di daerah senen/kwitang… yg jualan di sana banyak ‘halak hita’ sehingga bisa nego. hehehe
@Lae Dinan,
ntar kalo sukses sudah ditangan, jangan lupa menolong orang agar tidak menanggung dosa. Hehehe.
Horas
Lae Tobing,
kalo patungan dua tiga orang beli satu buku, kira kira kurang mantapkah? Dulu saya dan teman2 sering lakukan itu, itung itung belajar bersama. Hehehe. Dasar miskin kita kita ini ya,Berangkat dari kampung menuju sekolah bagaikan kambing dilepas dari kandang, gak punya apa apa.
Dulu pernah saya dengar, ada orang di LN yang mengupayakan pengiriman buku bekas yang masih up to date, tetapi dipersulit di DN, dipajak tinggi tinggi. Entahlah benar atau tidak.
@amang hh
kalau belinya secara patungan juga bagus, tapi kalau mau baca harus ganti2an, mesti ada kesepakatan sebelumnya hehehe…
mengenai buku dari LN itu saya juga pernah dengar (tapi kurang tahu pastinya di mana & bagaimana)… dan kalau itu benar terjadi, alangkah menyedihkan negeri ini… pemerintah yang seharusnya membangun negeri (salah satunya melalui pengadaan buku) malah menjadikan pengadaan buku sebagai ‘sumber pemasukan’… alamak jang… hehehe
horas…
@bang HH
bolehlah bang. hehehe.
thanks lae Rodri.
Pingback: Memperbaiki buku usang | rod-tobing weblog™