Resensi buku “Dokter Juga Manusia”

Judul bdokter juga manusiauku             : Dokter Juga Manusia

Pengarang              : dr. Iqbal Mochtar

Jenis buku              : Nonfiksi kesehatan

Jumlah halaman  : xvii + 242

Penerbit                  : PT Gramedia Pustaka Utama

“Dalam penampilan sehari-hari, seorang dokter tampak begitu elegan. Dengan menggunakan jas putih bersih dan stetoskop yang tergantung di leher, mereka berjalan mengunjungi pasiennya di bangsal rumah sakit, menyapa pasien dengan ramah, memeriksa, dan memberikan pengobatan. Sesekali mereka tertawa dan bercanda dengan pasiennya. Di sampingnya ada perawat yang terus mengikuti. Dengan buku di tangan, sang perawat mencatat setiap perintah dokter memeriksa pasien. Saat visite begini, tidak jarang dokter ditemani dokter-dokter lain, terutama dokter-dokter muda dan dokter yang sementara menjalani pendidikan spesialis. Para dokter ini saling berdiskusi dan bertanya jawab sambil terus memberikan pelayanan kepada pasien.

Di luar rumah sakit, kehidupan dokter juga tampak menyenangkan. Setelah bertugas di rumah sakit hingga siang hari, mereka membuka praktik sore dan melayani banyak pasien. Semakin banyak pasien yang dilayani, semakin banyak pula penghasilan mereka. Hari Sabtu, Minggu, atau hari libur biasanya disediakan untuk keluarga atau untuk berekreasi. Tidak sedikit di antara mereka yang membawa keluarganya liburan ke luar daerah atau bahkan ke luar negeri pada hari-hari libur begini. Anak-anak mereka sekolah dengan baik. Istri atau suami mereka dapat menjalankan tugas-tugas rutin lain tanpa ada kendala yang berarti. Mereka hidup di rumah bagus dan dilengkapi supir dan pembantu.

Sungguh penampilan dan pekerjaan dokter sehari-hari tampak begitu indah, damai, dan membahagiakan. Tapi tahukah Anda bahwa di balik jasnya yang putih bersih dan di balik pekerjaannya yang tampak indah dan membanggakan tidak sedikit dokter yang memendam sisi gamang dalam hidupnya?”

Kutipan di atas diambil dari buku “Dokter Juga Manusia” karangan dr. Iqbal Mochtar. Ya, seperti judulnya, buku tersebut mengupas sisi lain dari kehidupan seorang dokter. Mengenai sosok dokter yang jarang diketahui oleh masyarakat umum, plus hal-hal lainnya.

Secara garis besar buku ini membahas tiga hal, yaitu (1) hak dan kewajiban pasien dan dokter, (2) penyakit, upaya diagnosis, dan tindakan medis, serta (3) profesi dan tantangan dokter.

Pada bab “Hak dan Kewajiban Pasien dan Dokter”, pembaca diajak untuk mengetahui secara berimbang mengenai apa saja hak dan kewajiban pasien dan dokter. Selama ini masyarakat cenderung beranggapan bahwa dokter adalah sosok yang nyaris sempurna, segala tindak-tanduknya selalu tepat sehingga jika terdapat kekeliruan maka dokter dapat dituntut. Namun ternyata, dokter juga berhak menuntut pasiennya apabila gugatan yang diajukan kepada dirinya tidak bisa dianggap sebagai suatu kekeliruan. Di sinilah sering terjadi mispersepsi antara dokter dan pasien: apa yang dianggap pasien sebagai suatu kekeliruan ternyata bisa dijelaskan secara ilmiah sehingga tidak bisa dianggap sebagai suatu kekeliruan medis. Dengan demikian, komunikasi yang baik menjadi kunci agar peristiwa tuntut-menuntut ini bisa dihindari. Selain itu, pada bab juga dibahas mengenai perilaku “unik” pasien seperti hobi gonta-ganti dokter (doctors shopping), mengecoh dokter untuk memperoleh surat keterangan sehat, hingga bagaimana cara untuk menjadi pasien yang baik.

Di bab “Penyakit, Upaya Diagnosis, dan Tindakan Medis”, pembaca diajak untuk mengetahui bagaimana seorang dokter berpikir, menganalisa hingga menegakkan diagnosis dan memutuskan terapi. Lagi-lagi sering terjadi mispersepsi antara dokter dan pasien dalam berbagai hal, seperti mengenai pemberian obat generik alih-alih obat paten, diagnosis yang berbeda yang dikeluarkan oleh dokter yang sama di tempat praktek yang berbeda, hingga benturan yang terjadi antara keinginan pasien dan rasionalitas dokter. Semuanya dibahas di sini dari sudut pandang netral, sehingga diharapkan pembaca dapat mengetahui ada apa yang sebenarnya sehingga terjadi mispersepsi antara dokter dan pasien plus cara menghindarinya.

Pada bab terakhir, “Profesi dan Tantangan Dokter”, pembaca akan melihat bagaimana seluk-beluk kehidupan dokter saat ini. Mulai dari pendidikan (kuliah) kedokteran yang disebut-sebut “mahal” dan “sulit”, kewajiban PTT setelah tamat, penghasilan seorang dokter, hingga kehadiran dokter-dokter asing di Indonesia. Penulis mengajak untuk mengetahui ada apa sebenarnya di balik profesi dokter yang sepintas telihat elegan dan sempurna. Selain itu pada bab ini juga dibahas hal-hal penting mengenai profesi dokter yang mengalami pergeseran semenjak zaman dahulu, seperti otonomi dokter yang kian hari kian “terkikis”, kemuliaan profesi dokter, malpraktik hingga sisi gamang dari kehidupan seorang dokter. Diharapkan setelah membaca buku ini, pembaca memiliki sudut pandang baru yang lebih segar dalam melihat profesi dokter dan dalam kaitannya dengan pasiennya. Bahwa dokter, sama seperti pasiennya, hanyalah manusia biasa namun dibekali sedikit pengetahuan dalam mengobati orang sakit.

Setiap kalimat dalam buku ini ditulis dengan bahasa sehari-hari yang mudah dicerna oleh siapa saja, jauh dari istilah-istilah medis yang rumit yang hanya dipahami oleh sebagian orang. Setiap bab terdiri dari sub-bab yang masing-masing panjangnya tidak lebih dari 3-4 halaman, sehingga setiap gagasan disampaikan dengan padat dan tidak bertele-tele.

Buku ini cocok dibaca oleh siapa saja, baik pihak dokter (termasuk mahasiswa kedokteran) maupun pasien (masyarakat umum). Setelah membaca buku ini, diharapkan kedua pihak akan memiliki persepsi yang tidak lagi bertentangan satu sama lain, di mana dokter bisa memahami apa kebutuhan pasiennya dan sebaliknya, pasien memahami apa yang menjadi kebutuhan dan kewajiban dokternya.

Khusus untuk teman-teman sesama mahasiswa kedokteran, saya menyampaikan bahwa buku ini layak untuk dijadikan sebagai salah satu koleksi, di antara textbook-textbook yang tebal, karena buku ini akan menambah pengetahuan mengenai dunia praktek di kehidupan masyarakat.

11 thoughts on “Resensi buku “Dokter Juga Manusia”

  1. maksud saya begini lae, mungkin karena saya sering melihat tipe gedung rumah sakit umum di Indonesia itu luas, kusam, banyak ruangan gelap dan kurangnya bersih. jika dibandingkan dengan rumah sakit swasta terdapat kesan ramah dan lebih bersih.

  2. @nandosimo
    hmm seperti itu ya lae…kalau rumah sakit negeri memang rata2 penampilannya seperti itu (walaupun ada juga yang sudah berbenah sehingga penampilannya dari luar menyerupai RS swasta)

    aku ambil contoh RSCM ya lae, sebagai rumah sakit pusat rujukan tertinggi di Indonesia (kebetulan dekat2an dengan kampusku)..gedungnya RSCM itu masih peninggalan kolonial Belanda punya, antik… makanya dari luar dan dalam terlihat kurang begitu bersahabat (seperti museum saja, hehehe)…

    pada saat ini pemerintah kita masih lebih memfokuskan perhatian kepada pelayanan pasien,utamanya pasien kurang mampu, serta pengadaan fasilita, jamkesmas, askes,dll sedangkan perbaikan penampilan rumah sakit secara menyeluruh masih dijadikan prioritas ke sekian… namun begitu pemerintah tetap memperhatikan,misalnya saja di RSCM kini sudah dibangun gedung A yang bagus dan rapi,juga tahun 2010 akan dibangun Twin Tower yang bagus dan moderen…perlahan2 gedung yang lama itu akan digantikan dengan gedung baru yanglebih bagus,disertaipeningkatan pelayanan..dirumah sakit lain juga seperti itu

    lagipula dibandingkan penampilan luarnya, bukankah lebih penting pelayanan yang diberikan rumah sakit tersebut? buat apa gedung bagus tapi dokter2nya tidak komunikatif sehingga sering terjadi kesalahpahaman (dan malpraktek) seperti kasusnya Bu Prita Mulyasari itu, hehehe…

    bagaimana tanggapan lae?

  3. baguslah bila bertahap rumah sakit di Indonesia membenahi diri. ya, saya sih berharap tidak terlalu sering ke rumah sakit untuk berobat bahkan untuk menjenguk yang sakit. sebagai orang awam, saya sedih melihat orang2 terdekat kita yang sedang dirawat. bapak saya pernah dirawat di Cikini bulan agustus lalu karena terkena DB. ya saya seperti ikut juga merasakan sakitnya beliau. Untuk tips sakit demam berdarah, diminum sop B1. ternyata trombosit darahnya naik secara drastis. (saya sampai rela subuh berburu daging B1 untuk dibuatkan sop). :) trims lae, atas infonya.

  4. WAH…
    saya juga udah lahap abis nih buku setaon yang lalu….bagus bukunya…tapi saya selalu sedih asal baca buku cerita dokter…cita cita ku mau jadi dokter belum kesampean…malah jadi anak teknik…
    abang FKUI stambuk brapa bang?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s