Perlukah ospek dalam kehidupan kampus?

Genap sudah setahun saya berkuliah di FKUI. Jika pada tahun yang kemarin saya adalah mahasiswa tingkat satu (paling junior di lingkungan kampus), maka saat ini saya sudah menjadi mahasiswa tingkat dua. Dan jika kemarin saya diospek oleh para senior, maka kali ini sayalah yang ikut andil dalam perhelatan ospek mahasiswa baru. Pengalaman ini membuat saya berpikir, apakah sesungguhnya ospek itu perlu bagi mahasiswa baru?

Pandangan umum mengenai ospek: suatu pewarisan budaya premanisme di lingkungan kampus

Ospek, singkatan dari orientasi dan pengenalan lingkungan kampus, adalah suatu acara yang diadakan oleh pihak kampus untuk menyambut mahasiswa baru. Para mahasiswa baru tersebut dapat dikatakan sebagai anggota baru dari keluarga besar sivitas akademika fakultas. Karenanya, ospek boleh dikata sebagai suatu momen untuk menyambut sekaligus memperkenalkan lingkungan yang relatif baru kepada mahasiswa baru.

Hari H PSAFPada umumnya, ospek selalu diasosiasikan dengan hal negatif bagi sebagian orang. Sebagai contoh, terkadang orang (termasuk mahasiswa baru) membayangkan ospek sebagai kegiatan/ajang balas dendam senior kepada juniornya, sehingga dipenuhi oleh tindakan-tindakan kasar, aneh, tidak rasional, dan umumnya ‘menyiksa’ mahasiswa baru. Ada yang menganggap bahwa ospek dipenuhi oleh kekerasan fisik dan mental, seperti tampar-menampar, olahraga fisik yang berlebihan, atau hukuman bagi para junior yang dianggap tidak logis. Pemberitaan media massa setiap tahunnya juga tidak bisa luput dari cerita mengenai kekerasan selama ospek, yang berujung kepada derita mahasiswa baru (baik fisik maupun mental), hingga ada yang meninggal.

Bahkan, sewaktu saya terlibat dalam panitia ospek di kampus, seorang ibu (orangtua dari mahasiswa baru) yang ikut mengantar anaknya hingga ke depan pintu gerbang kampus mewanti-wanti saya agar tidak melakukan kekerasan apapun, baik fisik maupun mental. Ibu tersebut beranggapan bahwa ospek adalah kegiatan yang penuh kekerasan, sehingga tidak aman baginya untuk melepas anaknya sendirian mengikuti ospek. Hal itu, menurut saya, mewakili anggapan dari banyak orang mengenai ospek.

Dengan adanya suatu anggapan bahwa kegiatan ospek selalu dipenuhi oleh kekerasan, baik fisik maupun mental, melahirkan suatu pandangan masyarakat (termasuk mahasiswa baru) bahwa ospek tidak lebih dari ajang balas dendam. Jika dulu para senior yang diospek (‘merasakan penderitaan’), maka kini mereka membalaskan rasa ‘sakit hatinya’ kepada junior yang baru masuk, dan hal tersebut membentuk suatu ‘mata rantai’ (senior-junior-dan seterusnya) yang tidak pernah putus. Sehingga dikatakan bahwa ospek sesungguhnya tidak lebih pewarisan budaya premanisme/militerisme di lingkungan kampus.

Ospek yang benar

Sesuai namanya, ospek haruslah merupakan suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru kepada lingkungan dan kehidupan kampus. Maka segala kegiatan yang akan dilakukan saat ospek harus bertujuan dan memberikan manfaat positif kepada mahasiswa baru. Jangan sampai mereka melakukan sesuatu yang justru tidak ada manfaatnya bagi diri mereka.

Ada kalanya dalam kegiatan ospek kampus tertentu, para mahasiswa baru diharuskan melakukan/membawa sesuatu yang aneh, misalnya:

  • disuruh mengenakan petai/jengkol yang digantung di leher,
  • kaleng minuman kosong berisi batu kerikil yang dililitkan di pinggang,
  • membawa keranjang sampah, dan sebagainya.

Ini adalah contoh ospek yang salah, karena hal tersebut tidak ada manfaatnya bagi para mahasiswa baru. Mereka melakukannya semata-mata hanya untuk memenuhi perintah senior, di mana para senior menjadikan hal tersebut sebagai sarana mengolok-olok mahasiswa baru. Ospek yang seperti ini harus dihindari.

Di dalam ospek yang benar, segala tugas/perintah yang wajib dilakukan oleh mahasiswa baru selama ospek harus memberikan manfaat positif/pengetahuan baru kepada mereka. Jangan sampai mahasiswa baru melakukan sesuatu hal yang bersifat sia-sia bagi mereka, dan bahkan menjatuhkan diri mereka di hadapan seniornya. Harus ada esensi yang bisa diambil dari setiap hal yang dilakukan dan bersifat baik untuk kehidupan mereka di kampus selanjutnya, misalnya:

  • Menumbuhkan kekompakan di dalam satu angkatan,
  • Menambah pengetahuan,
  • Menimbulkan rasa kepemimpinan (leadeship),
  • Melepaskan kepribadian SMA yang kurang baik, dan beralih kepada kepribadian mahasiswa yang baik,
  • Dan lain-lain.

Pelaksanaan ospek juga harus mengikutsertakan, atau setidaknya diketahui oleh pihak dekanat fakultas. Sehingga ospek tersebut bukanlah suatu kegiatan ilegal yang diselenggarakan oleh pihak mahasiswa tanpa ada kontrol dari pihak yang lebih tinggi. Kehadiran pihak dekanat fakultas sebagai pelindung sekaligus pembimbing kegiatan akan membuat kegiatan ospek berlangsung dengan baik dan benar, sekaligus mencegah terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Kekerasan selama ospek

Mengenai hal ini, saya menyerukan satu hal: tidak boleh ada kekerasan, dalam bentuk apapun, selama kegiatan ospek. Pengalaman sudah membuktikan, bahwa kekerasan baik fisik maupun mental, hanya membawa dampak negatif terhadap peserta ospek. Kekerasan fisik telah menimbulkan kematian pada beberapa kasus, baik karena kekerasan fisik secara langsung (dipukul, ditendang, ditampar, dsb) maupun yang tidak langsung (seperti disuruh memikul batu bata sambil jalan kaki dengan jarak yang lumayan jauh, berjalan mendaki, dsb). Tidak ada satu alasan pun yang mampu membenarkan adanya kekerasan fisik dan mental selama kegiatan ospek. Mahasiswa baru bukanlah (maaf) binatang, atau benda mati yang dapat diperlakukan semena-mena sesuai keinginan senior. Mereka juga adalah manusia, sama seperti seniornya, yang memiliki batas ketahanan fisik dan mental. Perlakuan yang melanggar ketahanan fisik dan mental peserta merupakan pelanggaran terhadap hak asasi manusia. Panitia ospek harus menjunjung tinggi hal tersebut.

PSAF FKUI, contoh ospek yang baik dan benar

Saya mengambil contoh ospek di lingkungan FKUI. Ospek di lingkungan FKUI dikenal dengan istilah PSAF (Pengenalan Sistem Akademik Fakultas). Kegiatan ini adalah kegiatan bersama, yang diselenggarakan hasil kerjasama pihak dekanat fakultas dan kemahasiswaan. Dengan demikian, sejak awal telah ditegaskan bahwa kegiatan ini adalah kegiatan yang legal dan tidak menyimpang dari aturan-aturan yang telah disepakati bersama. Kehadiran dekanat dalam kegiatan PSAF akan memberi kontrol positif terhadap pelaksanaan kegiatan.

Suasana PSAF di depan gedung Histology-FKUISelama kegiatan, panitia ospek diwajibkan memberi teladan kepada mahasiswa baru. Keteladanan tersebut dapat berupa sikap kedisiplinan, keseriusan, berpikir kritis, berjiwa kepemimpinan dan kekompakan sesama mahasiswa. Tidak ada hal buruk yang dicontohkan oleh panitia ospek kepada mahasiswa baru.

Jauh hari sebelum hari-H PSAF, mahasiswa baru telah diberitahu tugas-tugas yang harus dikerjakan, seperti membuat profil kesehatan atau essay ilmiah, dan wajib dikumpulkan pada saat acara PSAF. Dengan adanya tugas ini, maka mahasiswa baru dituntut untuk belajar dan berpikir kritis, suatu hal yang mutlak diperlukan dalam kehidupannya sebagai mahasiswa kelak. Selain itu ada juga tugas yang bertujuan untuk menumbuhkan kekompakan sesama mahasiswa baru di dalam satu angkatan, seperti membuat yel-yel bersama atau jargon angkatan. Tidak ada tugas yang bersifat sia-sia, apalagi melecehkan mahasiswa baru.

Selama acara PSAF, mahasiswa baru juga mendapat ceramah/seminar yang dibawakan oleh para petinggi fakultas, seperti seminar mengenai kemahasiswaan, pendidikan pembelajaran, kepemimpinan, sejarah FKUI, pergerakan mahasiswa dan lain-lain. Para peserta diberikan kesempatan untuk bertanya dan mengemukakan pendapat demi menambah pengetahuan mereka. Suatu kegiatan yang jauh dari hal yang namanya kekerasan.Mahasiswa baru juga akan dibawa berkeliling ke seluruh penjuru kampus, dan diperkenalkan dengan lingkungan kampus. Mereka bebas bertanya mengenai apapun, sebab pengenalan yang baik terhadap lingkungan kampus dan keluarga besar civitas akademika akan menambah kedekatan mereka terhadap almamaternya sendiri.

Kesimpulan

Ospek yang baik adalah kegiatan, yang sesuai dengan namanya, yaitu untuk mengenalkan dan mengorientasikan mahasiswa baru terhadap lingkungan kampus. Tidak boleh ada kekerasan, yang justru menjatuhkan mahasiswa baru baik fisik maupun mental. Sebaliknya, mereka perlu dibekali dengan pengetahuan dan kedekatan terhadap almamater demi menumbuhkan jiwa kemahasiswaan yang baik dan rasa sebagai bagian dari keluarga besar civitas akademika fakultas. Hendaknya kegiatan ospek yang menyimpang dan penuh kekerasan tidak dilakukan lagi, dan diganti dengan kegiatan ospek yang bermanfaat bagi para mahasiswa.

21 thoughts on “Perlukah ospek dalam kehidupan kampus?

  1. saya sepenuhnya setuju bro bahwa orientasi mahasiswa yang selama ini salah di banyak universitas di Indonesia harus di luruskan. “premanisme”, kekerasan dll tetap di pertahankan para panitia ospek dengan alasan tradisi. tradisi ?? tradisi yang mana dan siapa yang buat… tidak semua tradisi patit di teruskan dan dipertahankan, karena ada tradisi yang berakar dari kebodohan seperti kekerasan di ospek tadi…..
    ok… nice blog bro sukses deh ..

  2. astaga bang, kau kan panitia psaf….
    serem lagi, kalo aku yang jadi maba pasti udah ngundurin diri karena liat kau… wkwkwkwkk

  3. oh ya bang
    saya dari Universitas Sumatera Utara
    menurut deskripsi abang ttg ospek di FK UI bertjuan untuk hal2 yng positif.
    Tapi kalao saya lht di FK USU,
    ospekna seperti :
    1. Menangkap kodok
    2. Cium Ketiak & Kaos kaki serta cium sepatu yang didalamnya terdapat muntahan
    3. Memakai baju yang disiram kecap selama 4 hari ospek berlangsung
    4. Disuruh hisap rokok

    apa jenis ospek ini(menurut abang sendiri) berguna tidak?
    karena saya tanya senior saya di FK USU berguna untuk praktek2 dokter jika sudah sampai pada waktunya.

    Terima Kasih

  4. @BigPhil
    saya akan menjawab pertanyaan ini namun tidak mengkaitkan dgn almamater (apakah FKUI atau FKUSU)
    terus terang, saya melihat ospek2 semacam itu (menangkap kodok dsb) sama sekali tidak ada gunanya. kenapa? inilah yang saya sebut ospek yang kehilangan idealisme, kehilangan jati diri… para senior melakukan hal tsb hanya karena mereka juga dahulu ditindas diperlakukan demikian… sehingga yang terjadi bukanlah pendidikan melainkan ajang balas dendam alias militerisme bin premanisme di kampus…
    saya tanya kepada BigPhil sendiri, apa dibenarkan seorang (calon) dokter dalam ospeknya disuruh menghisap rokok? yang notabene rokok adalah agen berbahaya/teratogen bagi manusia? bagaimana seorang dokter bisa memberi pelayanan kesehatan primer mengenai bahaya merokok pada masyarakat, kalau pada waktu ospeknya saja mereka (para dokter) sudah diajari merokok… belum lagi yang main kodok dsb, bukankah pada kenyataannya seorang dokter tidak ada urusannya dengan kodok? memang ada yang mengatakan bahwa seorang mahasiswa kedokteran akan praktikum menggunakan mayat kodok, tapi bukan berarti mahasiswa tersebut harus mencari kodoknya sendiri… dan juga mengenai mencium kaus kaki/sepatu berisi muntahan, menurut saya ini berlebihan dan tidak berguna…kalau memang profesi dokter menuntut untuk mencium bau2an seperti itu, maka akan ada saatnya seiring dengan pembelajaran di kampus… dulu (sebelum masuk di FK) saya merasa ‘eneg’ jika mencium bau mayat, namun seiring dgn waktu (dan pembelajaran) saya jadi terbiasa mencium bau mayat dan formalin (sehingga bukan berarti sewaktu ospek saya harus dikurung di kamar mayat, kan)…kira2 seperti itu maksud saya
    ospek seperti inilah yang harus segera dibenahi dan diganti dengan sistem yang lebih baik… jangan sampai ospek kehilangan jati dirinya sebagai orientasi dan pengenalan sivitas akademik kepada keluarga baru (mahasiswa baru) fakultas…
    menurut saya demikian.
    salam.

  5. Ok. Terima kasih bang.
    Jadi kalau menurut bang rodry sendiri PSAF FK UI itu letak keunggulan & manfaat bagi mahasiswa baru itu apa? ( poin yang paling penting)

  6. maaf, boleh nggak tulisannya saya post, tapi tidak semua, hanya yang penting2 saja. karena tulisan ini bagus dan semoga bisa jadi pencerahan bagi mahasiswa yang terlibat di kepanitian ospek, tk.

  7. mau tanya….
    saat ospek,,masuk ke kamar mayat… untuk tujuan yang berhubungan dengan ilmu kedokteran itu sendiri kan.

    terimakasih.

  8. @dindoo
    betul, tujuan nya itu eemang untuk kepentingan kita sendiri (berhubungan dgn ilmu kedokteran). ntar kan pas udah kuliah kita pasti ada yang namanya praktikum anatomi, jadi sejak awal kita sudah dikenalkan bahwa ada “tempat yang isinya seperti ini (ruang anatomi)” di dalam kampus. biar ntar kita ngga kaget pas praktikum anatomi.

  9. Saya mungkin ospeknya lebih parah, karena saya sampai demam 2 hari gara-gara kelelahan.

    Ospek di kampus saya ada 2 tahap, pertama AKMP (saya lupa kepanjangannya) dan yang kedua KDIM (Kemah Diskusi Ilmiah) berlokasi di Rejomulyo (Lempake). Di tahap ke 2 inilah yang sangat parah, karena dibebani olah raga yang sangat keras. Tapi semenjak tahun 2006, dua ospek ini ditiadakan. Dan diganti dengan kuliah perdana sebagai materi pengenalan kampus.

  10. Pingback: Ikut ospek (lagi) | rod-tobing weblog™

  11. Pingback: Takut yang Positif « rod-tobing weblog™

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s