Bagi saya, menonton TV adalah hal yang mewah mengingat selama seharian saya berada di kampus. Terkadang tiba di rumah di atas jam 18.00 (setelah magrib). Jam-jam segitu mayoritas stasiun TV kita menayangkan sinetron, kebanyakan merupakan sinetron serial (bersambung) dari episode sebelumnya. Namun sedihnya (buat saya dan mungkin juga buat anda), sinetron kita kebanyakan (atau mungkin semua?) jalan ceritanya, tokohnya, hampir semuanya tidak masuk akal. Aneh-aneh. Berikut keanehannya (saya tidak akan menyebut judul sinetron tersebut, karena selain memang saya tidak peduli, juga tidak etis):
1. Kok hampir semua ya sinetron kita menebar kedengkian, amarah, dendam, makian, dll? Contohnya: seorang majikan yang superkaya memperlakukan pembantunya secara tidak manusiawi, mis. memaki dengan umpatan kasar, tidak memberi makan, dll. Atau ibu yang menyiksa anak tirinya secara berlebihan, sementara anak kandungnya diperlakukan bak putri raja. Ironisnya sinetron itu ditayangkan pada jam-jam prime time, di mana biasanya seluruh anggota keluarga berkumpul menyaksikan termasuk anak-anak. Bayangkan bila anak-anak yang masih polos harus melihat adegan tersebut, hal ini akan tertanam di otak mereka dan bukan tidak mungkin akan termanifestasikan kelak.
2. Terkadang banyak sekali kebetulan yang aneh dan tidak masuk akal. Contoh: tanpa sebab yang jelas sepasang muda-mudi bertengkar hingga dorong-dorongan, kebetulan ada mobil melaju dengan kencang, kemudian (kebetulan lagi) si sopir tidak bisa ngerem, dan (lagi-lagi kebetulan) salah satu di antaranya hampir kena tabrak tapi (kebetulan) diselamatkan oleh pasangannya dan mereka pun akur lagi.
3. Adegan pasangan muda baru yang nikah dan tidak punya pekerjaan tetap, tapi rumah dan kekayaannya seperti milik saudagar minyak.
4. Anak gadis, ibunya, dan pembantunya kalau diperhatikan usianya tidak beda jauh dan sama-sama cantik. Misalnya seorang anak gadis kalau ditonton bisa diperkirakan usianya sekitar 20-an tahun, ibunya sekitar 25-an dan dipermak sepert ibu-ibu pejabat tapi jauh dari mirip, serta pembantunya yang cantik tapi agak bodoh. Kadang-kadang mereka bersekongkol untuk melakukan perbuatan jahat.
5. Ada tokoh yang memerankan orang yang terkena kanker stadium terminal, tapi anehnya masih bisa wara-wiri ke sana-sini layaknya orang sehat.
6. Ini zaman modern, tapi ada setting kerajaan, dan rajanya naik mobil Marcedes Benz sambil menelepon pake hape keluaran terbaru.
7. Ada naga atau burung rajawali raksasa atau ular ‘anaconda ala Indonesia’ hasil rekayasa komputer tapi bentuknya cekak/pas-pasan dan terlalu kontras dengan backgroundnya.
8. Adegan Jaka Ireng (atau siapalah) melawan Ki Sakti (atau yg lain), tapi bertarungnya di halaman rumah/villa, trus masing-masing bisa ngeluarin cahaya dari telapak tangan untuk melumpuhkan musuhnya.
9. Selain itu digambarkan dalam pertarungan tersebut sang pendekar bisa menghilang, menjadi naga, atau baca mantra sehingga musuhnya terkapar (padahal settingnya zaman modern lho!).
10. Habis bertarung, tiba-tiba sudah berada di kebun penuh bunga-bunga sambil nyanyi-nyanyi lagu dangdut lalu muncullah penari-penari cantik berbusana minim entah dari mana datangnya
11. Kalau menampilkan adegan rumah sakit/dokter, tidak sesuai dengan prinsip dunia medis/kedokteran (prima facie). Contoh: orang sudah megap-megap hampir mati malah ditensi bukannya di-RJP, selang oksigen, atau first aid lainnya?? Atau dokter yang menakut-nakuti pasiennya yang sakit kulit.
12. Paling menyebalkan kalau ada adegan/dialog yang menjurus ke pornografi. Contoh: “Adinda, aku tidak meyakini bahwa anak yang kau kandung itu adalah anak kita, sebab sudah beberapa bulan ini kita tidak melakukan …xXx…(silakan tafsirkan sendiri). Aku yakin kau berselingkuh”. Yang kayak gini kalau ditonton anak kecil kan gawat !!!
13. Kalau ada adegan di ruang kuliah, kadang dosennya adalah cewek yang masih muda memakai rok pendek sementara hampir semua mahasiswanya adalah laki-laki. Ironisnya, dosennya sering menjadi sasaran kejahilan mahasiswanya. Secara tidak langsung ini melecehkan profesi guru.
14. Ada lagi sinetron di mana sang suami melakukan poligami, bahkan dari judul sinetronnya udah menunjukkan hal tersebut (tahu kan judulnya…).
15. Beberapa sinteron yang dari jalan ceritanya sebenarnya udah pantas untuk ditamatkan (ending), tapi mungkin atas tuntutan industri jadinya dipanjang-panjangin, sampai muncul seri kedua, ketiga, dst. Padahal mungkin si penulis cerita tadinya tidak berniat bikin trilogi, tapi karena tuntutan jadinya trilogi yang tidak logi(s).
16. Sinetron tertentu menampilkan tokohnya bisa terbang, berada di surga, atau naik burung terbang.
17. Adegan anak-anak (ada yang masih balita dan memerankan tarzan cilik, tau siapa kan…) tapi dieksploitasi dan dipermak habis-habisan sehingga penampilan dan gaya omongnya melebihi orang dewasa. Kasihan. Ironisnya, tokoh orang dewasa tunduk pada anak ini.
18. Sinetron bahasa Arab, tapi dicampur dengan bahasa Indonesia. (Barangkali si sutradara sudah habis akal, sehingga bukannya mengembangkan jalan cerita ia malah mengimprovisasi bahasa agar sinetronnya lain dari yang lain. Yang ada justru ke-garing-an konsep yang mendasar)
Dan masih banyak lagi. Intinya, sinetron kita sudah jauh dari logika dan hati nurani dan lebih menjurus kepada pembodohan massal. Daripada nonton sinetron, saya lebih memilih mematikan TV dan melakukan aktivitas lain (saya berpikiran bahwa: jika sinetron sudah bodoh dan saya menontonnya, maka saya pun sama bodohnya dengan sinetron tersebut). Di saat-saat seperti ini, saya merindukan sinetron seperti Keluarga Cemara yang pernah tayang beberapa tahun lalu, di mana hampir semua adegannya intinya mengajarkan budi pekerti, akhlak, moral serta mengandung unsur pendidikan bagi keluarga Indonesia. Sangat disayangkan bahwa sinetron tersebut (atau mirip-mirip) sudah tidak bisa kita temukan lagi di layar kaca.
Ini hanya merupakan ungkapan kejengkelan saya terhadap dunia per-sinetronan kita yang menurut saya semakin hari semakin mengalami kemunduran. Jika pembaca merasa ada ketidakmasukalan lain dalam sinetron kita selain yang sudah saya sebutkan, silakan tulis di sini. Atau jika pembaca merasa tidak sependapat dengan saya (mungkin anda penikmat sinetron sejati), silakan sampaikan di sini dengan santun dan jelas. Terima kasih.
oooh bang..
Betapa saya juga benci dengan sinetron2 Indonesia sekarang.
Betapa mereka sudah membuat generasi penerus menjadi terbodohi.
Betapa banyak uang yang dibuang2 untuk biaya produksi sinetron2 sampah..
Gimana dong, bang? Gimana cara untuk membuat para produser2 India itu terus berhasil memperkaya kantong mereka? Gimana cara membuat orang Indonesia enggan menyaksikan sinetron sampah? Gimana bang? Gimana???
Hahhaha.Maap saya jadi marah2 disini. Abis sebel banget sih ngeliat sinetron kampungan dan nggak mendidik terus bertambah semakin harinya. Sebeeeeeeeeel!!
@dhilacious
yah gimana ya saya juga ga tau, hehehe….
kita hanya konsumen, korban kapitalisme.
ada yang tau solusinya??
dan saya jadi salah nulis..
harusnya bukan terus berhasil..tapi gagal..
maap.saking napsunya saya. haha
saya kira anda cocok jadi produser/sutradara, mengingat anda sangat bersemangat memperbaiki mutu sinetron kita, hehehe
memang sinetron kita kayak sampah, baik dari isi maupun tampilan
masa’ ada ular naga di tengah2 perumahan, trus pendekarnya naik sepeda motor, lha ini kan udah gak masuk akal.
i wish i could,bang.
tapi..jika it happen, mungkin orang2 juga ngga bakalan suka.
entahlah. siapa yang harus diperbaiki. penonton? sutradara? produser? atau malah stasiun TV-nya?
hmm..
udah tau sinetron indonesia ga bagus, tapi bisa bikin review di blog sepanjang ini.. ck.ck.ck..kayanya situ penggemar sinetron ya..
makanya pake tv langganan aja. lebih banyak acara bagus.
@nad
justru saya bisa menyimpulkan tidak bagus karena saya menonton semuanya
saya tonton juga sinetron luar negeri
dari situ saya buat perbandingan dan kesimpulan
Saya 100% setuju dengan pendapat Anda!
Sinetron Indonesia saat ini sangat tidak bermutu dan tidak mendidik. Tapi anehnya sinetron2 tsb sangat banyak penggemarnya.
Ironis.
Seandainya saja ada lagi sinetron semacam Keluarga Cemara…
setuju banget!!!!tapi yang jadi ironi, ibarat dagangan, sinetron kayak gitu laku banget.jadi selama “masyarakat” masih mau nonton maka produser akan dengan senang hati memproduksinya. masalah dikemudian hari apa masyarakat negara ini tambah pinter ato ngak, itu urusan lain.
attar2 songoni pe godang do na manonton bang.
itu yang buat kita salut
[aku aja udah melanggar... postingan bahasa indo campur batak. hehehe]
AMPUN dah, tiap hari nontonin cerita2 yang membuat Gue MUAK! MAsya Aloh…..!
setuju bgt..
sekedar mw nambahin, udah banyak juga acara yang “ngakunya” reality show, di ceritanya itu sampe hari ke-40an,,padahal itu acara kejer tayang 2 minggu sekali,
selain itu banyak adegan2 yg saya kira terlalu dibuat2 atau kebetulan..
parah..
Pingback: Efek Piala Dunia « rod-tobing weblog™
Pingback: Televisi pagi hari | rod-tobing weblog™