Kerikil Kecil Kehidupan

Di pusat kota sedang ada pembangunan besar-besaran. Sebuah gedung bertingkat akan didirikan dalam waktu segera. Proyek ini memakan biaya besar serta melibatkan banyak tenaga kerja.

Seorang pekerja bangunan, juga tengah sibuk dalam pembangunan gedung tsb. Sebenarnya sudah tiga tahun dia mengabdi kepada seorang mandor yang tentu sudah lebih lama pengalaman kerja dibanding dirinya. Mandor tsb-lah yang membawanya ikut andil dalam proyek besar ini.

Siang itu, pekerja tsb memanjat salah satu tangga darurat yang didirikan pada kerangka bangunan. Ia akan ke setiap lantai menghitung kebutuhan bahan baku. Pekerja tsb memanjat, sesekali berhenti  untuk memperkirakan kebutuhan bahan bangunan, memanjat lagi, berhenti lagi, begitu seterusnya.

Sang mandor, yang sudah terlebih dahulu berada di puncak karena datang lebih awal, melihat ke bawah. Ia memperhatikan bahwa anak buahnya ini sedang asyik memanjat tanpa memperhatikan ke atas. Anak buahnya ini tidak tahu kalau di atasnya ada beberapa anak tangga yang goyang bahkan hilang, sehingga berbahaya jika dipanjat tanpa diperhatikan sebelumnya.

Mandor ini lalu berteriak dari atas memperingatkan anak buahnya tersebut. Ia memanggil-manggil namanya ke bawah. Namun teriakannya tidak didengar karena deru mesin-mesin proyek; anak buahnya ini terus saja memanjat. Lagi-lagi ia berteriak, tapi tidak dihiraukan. Setelah putus asa berteriak, ia mengambil sebuah kerikil semen yang cukup keras, lalu melemparnya ke bawah. Lemparan itu mengenai kepala anak buahnya ini. “Aduh!”. Pekerja tsb lantas mencari siapa yang melempar kepalanya barusan dengan kerikil.

Ia lalu mendongak ke atas dan melihat bahwa mandornya sedang menunjuk ke salah satu anak tangga yang hanya beberapa senti lagi dari jangkauannya. Terkejut, ia sadar dan lantas turun ke lantai terdekat. Ya, kepalanya memang benjol, tetapi nyawanya selamat.

 

Menyampaikan Kabar Buruk

Asystole, no cardiac output

Hati siapa yang tidak sedih jika mendengar kabar buruk tentang kondisi kesehatan anggota keluarganya?

Beberapa hari belakangan, ketika saya jaga/dinas di IGD rumah sakit, beberapa kali datang pasien kritis dengan keadaan yang terus memburuk (deteriorasi), dengan didampingi keluarganya masing-masing. Pasien-pasien ini selalu dibawa ke ruang resusitasi dan diberikan Life Support untuk memperbaiki kondisi umum, khususnya fungsi kardiorespirasi dan otak. Namun kenyataannya tidak semuanya bisa terselamatkan. Ada juga beberapa yang harus pulang dengan kondisi (+).

Dalam bukunya yang berjudul “Bagaimana Dokter Berpikir dan Bekerja”, Prof Daldiyono menulis bahwa selain bertugas dalam meningkatkan kualitas hidup pasien (promosi kesehatan), menyembuhkan penyakit (kuratif) dan rehabilitatif, dokter memiliki tugas terakhir dalam menatalaksana pasien yaitu: mempersiapkan pasien (dan keluarganya) menghadap Tuhan Yang Maha Esa. Tugas ini merupakan bagian dari palliative care, yang diberikan bagi pasien dengan penyakit stadium lanjut atau yang tidak dapat ditangani lagi. Peran dokter adalah terutama dalam mengurangi rasa sakit (derita) yang dialami pasien dan keluarga, serta memberikan pendampingan psikososial dan bila perlu melibatkan aspek religius.

Seringkali baik dalam praktik sehari-hari maupun di ruang rawat emergensi, pasien datang dalam kondisi yang kritis. Kondisi kritis ini jika memungkinkan, harus dirujuk secepatnya ke bagian gawat darurat atau resusitasi di rumah sakit terdekat, untuk diberikan pertolongan pertama (Basic and Advanced Life Support).

Apakah semua pasien gawat berarti bisa sembuh dan pulih seperti sediakala? Belum tentu. Untuk kondisi-kondisi tertentu, dokter tidak dapat berbuat banyak serta harus mempertimbangkan risk-and-benefit baik bagi pasien maupun keluarga.

Suatu kenyataan yang tidak dapat disangkal, mau tidak mau, pasien harus menghadap ke Tuhan Yang Maha Esa. Upaya terakhir barangkali monitoring keadaan (saturasi oksigen, tek.darah, nadi, napas, EKG) serta memanggil keluarga pasien untuk pendampingan.

Adalah sangat penting dalam memberitahu keluarga tentang kondisi pasien saat ini. Inilah yang disebut sebagai Breaking the Bad News atau Menyampaikan Kabar Buruk. Kabar ini cepat atau lambat harus diberitahukan. Ada beberapa point yang sebaiknya disampaikan:

Pertama: Kondisi pasien saat ini harus disampaikan dengan sejelas-jelasnya dan sejujur-jujurnya, tanpa ada yang perlu disembunyikan apalagi dimanipulasi. Kedua, menyampaikan apa yang mungkin saja terjadi ke depannya, serta upaya yang telah (dan akan) dilakukan. Ketiga, menyerahkan keputusan kembali kepada keluarga, apa yang akan diperbuat selanjutnya. Keputusan ini dapat berupa mendampingi pasien di saat-saat yang berharga, penghentian terapi dan obat-obat yang bersifat kuratif dan invasif, atau permintaan pulang. Semuanya bergantung pada kebijakan keluarga. Dokter bertugas memfasilitasi pertemuan ini.

Dalam menyampaikan kabar buruk ini, dibutuhkan sikap Empati dari pihak dokter/pelayanan medis. Seburuk-buruknya suatu keadaan harus disampaikan sembari merasakan perasaan keluarga, layaknya bagaimana bila kita sendiri ada  di posisi mereka. Berbagai penolakan, kesedihan, atau amarah harus dapat dikenali dan diberikan waktu untuk menenangkan diri serta mengambil keputusan terbaik dari pihak keluarga.